AKPY Bersama BPDP dan Ditjenbun Bekali Petani Sawit, Kualitas TBS Jadi Penentu Harga

oleh
oleh

Palangka Raya, kaltengonline.com — Bagi petani kelapa sawit, panen bukan sekadar soal memotong tandan buah segar (TBS) dari pohon. Lebih dari itu, kualitas TBS yang dihasilkan menjadi faktor utama yang menentukan harga jual di pabrik. Buah yang dipanen sesuai standar, bersih, matang optimal, dan cepat sampai ke pabrik berpeluang mendapatkan harga lebih baik dibanding buah yang kualitasnya rendah.

Pemahaman itu menjadi salah satu fokus utama dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) di Palangka Raya, 18–23 Juni 2026.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP., MP., menegaskan bahwa keberhasilan sawit nasional ke depan tidak hanya bergantung pada bibit unggul atau teknologi, tetapi juga pada kualitas petani dalam memahami cara menghasilkan TBS berkualitas.

“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul dan pupuk yang digunakan, tetapi ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ujarnya saat membuka kegiatan pelatihan.

Menurut Idum, banyak petani masih fokus mengejar kuantitas panen, padahal kualitas buah menjadi perhatian utama pabrik. TBS yang dipanen terlalu mentah, terlalu matang, tercampur kotoran, atau terlambat dikirim ke pabrik dapat menurunkan rendemen minyak dan berujung pada penurunan harga.

Sebab itu, dalam pelatihan panen dan pascapanen, peserta dibekali pemahaman mengenai standar kematangan buah, teknik panen yang tepat, pengumpulan brondolan, hingga percepatan pengiriman TBS ke pabrik.

“Sering kali kehilangan pendapatan petani bukan terjadi karena rendahnya produksi, tetapi karena kesalahan dalam proses panen dan pascapanen. Oleh karena itu materi ini sangat penting untuk dikuasai,” ungkapnya.

Sebanyak 237 pekebun sawit dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengikuti pelatihan tersebut, dengan 88 peserta khusus mendalami materi panen dan pascapanen. Idum menilai peningkatan keterampilan petani menjadi investasi jangka panjang yang akan berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hasil kebun.

Baca Juga:  Pelaku Pembakaran Perempuan di Kobar Diciduk di Samarinda

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Yephi Hartady Periyanto, mengatakan petani yang ingin memperoleh harga TBS lebih baik harus memahami standar mutu yang diinginkan pabrik sekaligus memperkuat legalitas usaha.

Menurutnya, kualitas TBS yang baik harus didukung dengan tata kelola kebun yang baik pula, termasuk kepemilikan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai dasar legalitas.

“Kalau ingin mendapatkan harga lebih baik, petani harus naik kelas. Artinya kualitas buah harus dijaga, legalitas lengkap, dan tata kelola kebun harus semakin baik,” tegas Yephi.

Ia menambahkan, STDB menjadi pintu masuk bagi petani untuk mengakses program peningkatan kapasitas, kemitraan, hingga sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO yang semakin dibutuhkan pasar.

Senada, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Jayan Wahyudi, mengingatkan peserta agar mengikuti pelatihan dengan serius dan menularkan ilmu yang didapat kepada petani lain.

Menurut Jayan, harga TBS di tingkat petani kerap anjlok bukan hanya karena faktor pasar, tetapi juga akibat lemahnya kualitas buah dan posisi tawar petani dalam tata niaga sawit.

“Banyak kasus harga TBS di tingkat petani anjlok karena lemahnya posisi tawar dan belum adanya pola kemitraan yang jelas. Dengan STDB, petani memiliki dasar legal yang lebih kuat dalam sistem tata niaga sawit,” katanya.

Dengan luas perkebunan sawit lebih dari 2,1 juta hektare, Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah strategis dalam industri sawit nasional. Karena itu, peningkatan kemampuan petani dalam menjaga kualitas TBS dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat.

Pada akhirnya, sawit yang memberi nilai tinggi bukan hanya berasal dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang memahami bahwa kualitas TBS adalah kunci utama untuk memperoleh harga terbaik dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.(bud)