Alarm Karhutla Kobar Berbunyi, 120 Titik Panas Terdeteksi, Arut Selatan Masuk Zona Paling Rawan

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Ancaman Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kian mengkhawatirkan. Hingga akhir Juli 2026, BPBD Kobar mencatat sebanyak 120 titik panas (hot spot) terdeteksi di sejumlah wilayah, menjadi sinyal meningkatnya risiko kebakaran pada puncak musim kemarau.

Berdasarkan data BPBD yang bersumber dari SiPongi Kementerian Kehutanan, Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Daerah ini mencatat 46 titik panas, tertinggi dibandingkan lima kecamatan lainnya.

Tak hanya mendominasi jumlah titik panas, Arut Selatan juga menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak. BPBD mencatat sedikitnya 57 kejadian kebakaran terjadi di kecamatan tersebut sepanjang Januari hingga 29 Juli 2026.

Sementara itu, dari sisi luasan lahan yang terdampak, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan area terbakar paling luas, yakni mencapai 75,05 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyebaran karhutla tidak hanya terkonsentrasi pada satu kawasan.

Secara keseluruhan, selama Januari hingga 29 Juli 2026, BPBD mencatat 102 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 194,568 hektare. Angka tersebut menjadi perhatian karena tren peningkatan mulai terlihat sejak memasuki musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Barat melalui Plt Bidang Kedaruratan dan Logistik, Adnan Santana, mengatakan peningkatan jumlah titik panas harus menjadi perhatian bersama agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Memasuki musim kemarau, potensi karhutla meningkat. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap agar bisa segera ditangani,” kata Adnan, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, BPBD terus memperkuat patroli lapangan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta relawan. Pemantauan melalui citra satelit juga dilakukan setiap hari sebagai langkah deteksi dini terhadap kemunculan titik panas.

Adnan menegaskan, keberhasilan menekan angka karhutla tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Pembakaran lahan, sekecil apa pun, berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas saat kondisi cuaca kering.

BPBD Kotawaringin Barat mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pelaporan dini terhadap munculnya titik api dan kepatuhan untuk tidak membakar hutan maupun lahan dinilai menjadi langkah penting agar bencana karhutla tidak semakin meluas di wilayah Kotawaringin Barat. (ko)