Remaja Tenggelam di Pelabuhan Rambang, Dewan Minta Orang Tua Perketat Pengawasan

oleh
oleh
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi.
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi.

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Tragedi tenggelamnya remaja 14 tahun di kawasan Pelabuhan Rambang, Kelurahan Pahandut, menjadi alarm bagi para orang tua di Kota Palangka Raya. Aktivitas anak di kawasan sungai dinilai membutuhkan pengawasan lebih ketat untuk mencegah musibah serupa kembali terjadi.

Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, menyampaikan belasungkawa atas musibah tersebut. Dia menilai, kehilangan anak secara tragis tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma bagi teman-teman korban yang berada di lokasi kejadian.

“Saya pribadi berbelasungkawa dan berduka atas musibah ini. Kehilangan seorang anak dengan cara seperti ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga dan kawan bermainnya,” katanya, Senin (10/8).

Menurut Syaufwan, peristiwa tersebut harus menjadi evaluasi bersama. Terutama bagi orang tua yang memiliki anak dan tinggal atau beraktivitas di sekitar bantaran sungai.

Dia mengingatkan, Sungai Kahayan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Palangka Raya. Namun, kawasan perairan juga memiliki potensi bahaya yang tidak selalu mampu dipahami anak-anak.

Karena itu, orang tua diminta mengetahui aktivitas anak secara lebih detail. Mulai dari lokasi bermain, teman yang diajak bermain, hingga kondisi tempat yang menjadi tujuan.

“Guna mencegah kejadian serupa terulang kembali, para orang tua diimbau untuk memperketat pengawasan terhadap anak terkait lokasi bermain dan siapa saja kawan bermainnya,” ujarnya.

Syaufwan menegaskan, pengawasan bukan berarti membatasi ruang bermain anak. Justru, orang tua perlu memastikan anak bermain di lokasi yang aman dan memahami batasan-batasan yang harus dipatuhi ketika berada di sekitar sungai.

Edukasi mengenai keselamatan di perairan juga perlu diberikan sejak dini. Anak harus memahami bahwa sungai bukan tempat bermain yang aman, terutama bagi mereka yang belum memiliki kemampuan berenang memadai.

“Kita sebagai orang tua harus tegas memberikan pemahaman kepada anak mengenai bahaya bermain di Sungai Kahayan. Terutama jika mereka belum memiliki kecakapan berenang yang memadai,” tegasnya.

Selain pengawasan dan edukasi, Syaufwan mendorong para orang tua membekali anak dengan kemampuan berenang. Keterampilan tersebut setidaknya dapat menjadi bekal keselamatan ketika anak berada di lingkungan perairan.

“Bekali anak-anak kita dengan keterampilan berenang yang memadai,” pungkasnya. (zia/ko)