PALANGKARAYA, Kaltengonline.com – Mengembangkan kerajinan daerah tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan pelestarian nilai tradisi. Di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif, para perajin dituntut mahir berinovasi, meningkatkan kualitas produk, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Semangat inilah yang dibawa oleh Forum Istri Anggota Dewan (Fisdawan) DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta, Jumat (7/8).
Kunjungan ini menjadi momentum strategis bagi Fisdawan DPRD Kalteng untuk menggali pengalaman dan strategi sukses yang telah diterapkan Dekranasda DKI Jakarta. Fokus utamanya adalah sistem pembinaan perajin dan pengembangan produk kerajinan agar memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Kedatangan rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Fisdawan DPRD Kalteng, Apristini Arton S Dohong, ini disambut hangat oleh jajaran pengurus Dekranasda DKI Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak aktif bertukar informasi mengenai tata kelola program, pola pembinaan perajin lokal, inovasi pengembangan produk, hingga penerapan strategi pemasaran berbasis digital. Diskusi ini dinilai sangat relevan dengan kondisi Kalteng yang kaya akan potensi kerajinan dan wastra khas daerah. Kekayaan budaya tak benda ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, sekaligus memperkuat identitas kebanggaan daerah.
Apristini menyatakan, kunjungan ini merupakan kesempatan berharga untuk mengadopsi berbagai praktik baik dari Dekranasda DKI Jakarta. Ilmu yang diperoleh nantinya akan diadaptasi dan disesuaikan dengan karakteristik serta potensi lokal yang dimiliki Kalteng.
“Kunjungan ini adalah langkah nyata organisasi untuk menyerap ilmu dari Dekranasda DKI Jakarta, terutama terkait optimalisasi potensi industri kreatif lokal agar bisa bersaing di tingkat nasional,” ujar Apristini.
Ia menilai, pengembangan kerajinan daerah mutlak dilakukan secara komprehensif.
Perajin tidak hanya dituntut mahir merakit produk, tetapi juga harus memikirkan daya tarik desain, kontrol kualitas, estetika kemasan, identitas merek (branding), hingga ketepatan strategi pemasaran. Terlebih lagi, era digitalisasi saat ini telah membuka ruang tanpa batas bagi para pelaku UMKM dan perajin untuk mempromosikan karyanya ke luar daerah.
Apristini meyakini wastra dan ragam kerajinan khas Kalteng berpotensi besar untuk berevolusi. Dari sekadar produk budaya, komoditas ini harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan para perajin.
“Kami berharap wawasan yang diperoleh dari kunjungan ini dapat segera diimplementasikan di Kalimantan Tengah, khususnya untuk mendorong kemajuan sektor kerajinan dan wastra daerah kita,” tambahnya. (zia/ko)







