PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Menyerap aspirasi masyarakat tidak selalu harus berlangsung di ruang rapat atau forum resmi. Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, memilih cara yang lebih cair dengan menemui masyarakat secara langsung melalui pertemuan santai di warung kopi, Jumat (14/8).
Khemal berdialog dengan warga sekaligus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Obrolan yang berlangsung santai menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai keluhan, kebutuhan, hingga kondisi ekonomi yang mereka rasakan sehari-hari.
Menurut Khemal, komunikasi dengan masyarakat justru dapat berlangsung lebih terbuka ketika tidak dibatasi suasana formal. Duduk bersama sambil menikmati kopi dinilainya mampu membuat masyarakat lebih leluasa berbicara mengenai persoalan yang mereka hadapi.
“Setiap waktu itu tidak mesti kita mengisi waktu dengan halhal yang formal. Kadang-kadang informal, ngobrol-ngobrol dengan masyarakat. Mendengarkan keluhan masyarakat, apa yang diinginkan masyarakat,” katanya, Jumat (14/8).
Ia menegaskan, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upayanya menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat, khususnya dalam menemui dan menyerap aspirasi konstituen pada masa reses.
Turun langsung ke tengah masyarakat, katanya, penting agar persoalan yang berkembang tidak hanya dilihat dari laporan maupun pembahasan di ruang parlemen, tetapi juga dari kondisi nyata yang dirasakan warga.
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya dalam pertemuan tersebut adalah kondisi ekonomi masyarakat di tengah tekanan infl asi Kota Palangka Raya. Ia menyo roti angka inflasi yang disebut telah mencapai 4,48 persen pada Juli.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian karena infl asi tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga barang, tetapi juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta keberlangsungan aktivitas ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha kecil.
Meski demikian, dari hasil melihat kondisi langsung di lapangan, Khemal justru menemukan adanya daya tahan yang cukup kuat dari para pelaku UMKM.
“Kita turun ke masyarakat, ke lapangan, lihat kondisinya. Ternyata pelaku UMKM lebih strong, lebih kuat menghadapi terpaan inflasi di Kota Palangka Raya,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan UMKM bertahan di tengah tekanan ekonomi menjadi salah satu indikator bahwa sektor usaha masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi daerah.
UMKM dinilai tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Karena itu, keberadaan dan keberlangsungan UMKM perlu terus mendapat perhatian dan dukungan agar pelaku usaha mampu menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
Khemal menilai, dukungan tersebut dapat diperkuat melalui kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan pelaku usaha di lapangan. Dengan begitu, UMKM tidak sekadar mampu bertahan ketika kondisi ekonomi sulit, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang. (zia/ans/ko)







