Layanan Oksigen Palangka Raya Siaga 24 Jam Hadapi Kabut Asap

oleh
oleh
Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Subandi, meninjau langsung kesiapan layanan darurat operasional 24 jam di Puskesmas Menteng di tengah kepungan kabut asap Karhutla, Jumat (2/10).
Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Subandi, meninjau langsung kesiapan layanan darurat operasional 24 jam di Puskesmas Menteng di tengah kepungan kabut asap Karhutla, Jumat (2/10).

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyelimuti wilayah Kota Palangka Raya, menuntut kesiagaan penuh dari seluruh fasilitas kesehatan (faskes). Merespons kondisi tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, Subandi, turun langsung meninjau pelayanan medis di Puskesmas Menteng, Jumat (2/10).

Dalam inspeksi tersebut, Subandi memastikan, seluruh layanan esensial bagi masyarakat beroperasi secara optimal. Fasilitas krusial, seperti suplai oksigen darurat hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD) dipastikan bersiaga penuh selama 24 jam.

“Pelayanan di Puskesmas Menteng berjalan dengan sangat baik. Kami memastikan layanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya penanganan kondisi darurat dan ketersediaan oksigen, tetap siaga 24 jam penuh di tengah ancaman kabut asap ini,” ujar Subandi di sela-sela kunjungannya.

Kesiapsiagaan IGD dan tabung oksigen ini, dinilai sangat vital untuk melindungi kelompok rentan, seperti balita, lansia, serta warga dengan riwayat penyakit asma. Di samping layanan darurat pernapasan, pelayanan persalinan juga terpantau lancar, dengan catatan tujuh ibu melahirkan telah tertangani dengan baik di puskesmas tersebut.

Menariknya, pekatnya kabut asap justru memengaruhi grafik kunjungan warga berobat. Pada kondisi normal, Puskesmas Menteng rata-rata melayani hingga 150 pasien per hari. Namun, semenjak kabut asap melanda, angka kunjungan menurun drastis ke kisaran 80 pasien sehari. Penurunan ini dinilai terjadi karena mayoritas warga lebih memilih berdiam diri di rumah demi menghindari paparan polusi udara.

Kurangnya aktivitas warga di luar rumah tersebut sejalan dengan tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang ikut melandai. Berdasarkan laporan data yang diterima Subandi, kasus ISPA pada bulan Agustus sempat menyentuh angka 538 pasien, lalu turun menjadi 374 pasien sepanjang bulan September.

“Meskipun ada penurunan grafik pasien ISPA dari 538 menjadi 374 orang, kesiapsiagaan faskes sama sekali tidak boleh mengendur. Kualitas udara akibat Karhutla ini fluktuatif dan bisa memburuk sewaktu-waktu, sehingga puskesmas harus terus waspada menjadi garda terdepan perlindungan masyarakat,” pungkas Subandi. (zia/ko)