Minimal Berangkatkan 4.000 CJH

oleh
oleh
Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya

Syarat Kalteng Bisa Embarkasi Haji Penuh

“Banjarmasin pun apabila Kalteng tidak bergabung dengan mereka juga tidak bisa embarkasi haji penuh, untuk saat ini kami tidak bisa memastikan kapan Kalteng bisa embarkasi haji penuh”

Hasan Basri

Kabid Penyelanggara Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Kalteng

PALANGKA RAYA-Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini sepenuhnya melalui embarkasi Banjarmasin, lantaran Kalteng belum bisa melaksanakan embarkasi haji penuh. Salah satu hal yang menjadi kendala yakni kondisi Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya yang masih belum memadai untuk pelaksanaan embarkasi haji penuh.

Kepala Bidang Penyelanggara Haji dan Umrah Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalteng Hasan Basri mengatakan, memang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk Kalteng nantinya bisa melaksanakan embarkasi haji penuh.

Diungkapkannya, memang ada beberapa kendala misal saja berkenaan fasilitas bandara hingga jumlah jemaah yang diberangkatkan. Melihat kondisi bandara saat ini memang belum memadahi untuk dilaksanakan embarkasi haji penuh, begitupun dengan jumlah jemaah rata-rata yang diberangkatkan.

“Salah satu syarat embarkasi haji penuh yakni harus memberangkatkan minimal 4.000 jemaah dalam embarkasi, sedangkan Kalteng di kondisi normal rata-rata hanya bisa memberangkatkan sekitar 1.600 jemaah saja, sangat jauh dari minimal yang disyaratkan,” ungkapnya saat diwawancarai, Jumat (3/6).

Dijelaskannya, berkenaan dengan jumlah jemaah haji yang diberangkatkan itupun menyesuaikan dengan kuota yang diberikan oleh Kementerian Agama. Di sisi lain, penentuan kuota jemaah haji ini juga menghitung dari jumlah penduduk beragam Islam, di Kalteng ini tentu berbeda dengan dengan jumlah penduduk islam yang ada di Banjarmasin terlebih dengan Jawa.

“Banjarmasin pun apabila Kalteng tidak bergabung dengan mereka juga tidak bisa embarkasi haji penuh, untuk saat ini kami tidak bisa memastikan kapan Kalteng bisa embarkasi haji penuh,” jelasnya.

Bahkan, untuk menjadi embarkasi antara saja selama dua tahun terakhir ini Kalteng tidak bisa melaksanakan. Mengingat, embarkasi anatra ini syarat transportasi dari embarkasi antara sampai ke embarkasi penuh menjadi tanggungjawab pemerintah provinsi.

“Calon jemaah tidak boleh lewat darat, embarkasi antara itu menggunakan transportasi udara dan langsung ke Jakarta, saat ini hanya transit saja dan embarkasi dengan Banjarmasin,” tegasnya.

Baca Juga:  Cegah Kelangkaan BBM Berulang, Gubernur Kalteng Usul Tambah Depo dan Kuota BBM

Ditambabhkannya, untuk dapat menjadi embarkasi antara harus mengajukan lagi, tapi memang tidak mudah. Memang apabila Kalteng menjadi embarkasi antara aka nada perkembangan asrama haji, tetapi pemerintah daerah bisa atau tidak? “Untuk transit ini transportasi menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota termasuk konsumsi sebelum calon jemaah masuk asrama haji,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kalteng Yulindra Dedy mengatakan pihaknya memang terus berupaya agar pada saatnya nanti Kalteng bisa melaksanakan embarkasi haji penuh. Memang sejak Tahun 2013 hingga 2016 lalu Kalteng ditetapkan sebagai embarkasi antara.

“Namun berdasarkan hasil evaluasi yang telah dipelajari pelaksanaan embarkasi haji antara ini dianggap kurang efektif dan efisien,” katanya.

Pihaknya menyebut bahwa pada Tahun 2020 dan 2021, pemerintah pusat tidak lagi menetapkan Kalteng sebagai embarkasi antara dan sepenuhnya melalui embarkasi Banjarmasin. Untuk itu memang sangat diperlukan dukungan anggaran dari masing-masing kabupaten kota di Kalteng untuk langsung mengirimkan calon jemaah haji ke bandara embarkasi Banjarmasin.

“Memang yang menjadi kendalanya karena Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya masih Belum memasuki kriteria untuk melaksanakan embarkasi haji penuh,” ucapnya.

Kondisi saat ini sisi panjang landasan Bandara Tjilik Riwut yakni 2.500 meter, saat ini pihaknya sudah mengusulkan kepada Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Tjilik Riwut untuk bisa membantu perpanjangan landasan kurang lebih sekitar 500 meter. Demikian paling tidak nantinya panjang landasan Bandara Tjilik Riwut yakni 3.000 meter dengan lebar 45 meter.

“Sedangkan untuk kondisi landasan pacu kita juga masih dibawa 60 PCN, saat ini kondisinya hanya berada di 48 PCN. Ini tidak mampu untuk didarati jenis Airbus karena tertinggi itu Boeing 737,” bebernya.

Untuk itu Pemprov Kalteng terus berupaya memaksimalkan koordinasi dengan api 2 sehingga Bandara Tjilik Riwut pada saatnya dapat ditingkatkan fasilitasnya dan bisa melaksanakan embarkasi haji penuh. “Khususnya calon jemaah yang berasal dari wilayah barat tidak lagi harus ke Banjarmasin,” pungkasnya. (abw/ala/ko)