PANGKALAN BUN, kaltengonline.com – Dugaan tindak kekerasan terhadap seorang santri berinisial DI, 13 tahun, di sebuah pondok pesantren di wilayah Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, kini menjadi perhatian aparat kepolisian. Korban dilaporkan sempat tidak sadarkan diri selama hampir sepekan dan mengalami luka pada bagian kepala yang diduga akibat benturan benda keras.
Ayah korban, Budi, mengaku pertama kali menerima kabar kondisi anaknya dari pihak pondok pesantren pada 23 April 2026. Melalui sambungan telepon, pihak pondok menyampaikan bahwa korban mengalami demam dan perlu mendapat penanganan medis di puskesmas setempat. Saat itu, keluarga diminta memberikan izin agar korban dapat diinfus.
Namun ketika mendapat informasi tersebut, Budi mengatakan kondisi anaknya sudah dalam keadaan tidak sadar. Ia juga menemukan adanya memar serta pembengkakan pada bagian kepala korban. Menurut penuturannya, korban awalnya hanya disebut mengalami sakit demam, tetapi kondisinya terus memburuk hingga tidak mau makan dan akhirnya kehilangan kesadaran.
Merasa ada kejanggalan, keluarga kemudian membawa korban ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan awal dan visum, ditemukan dugaan benturan keras di bagian depan maupun belakang kepala korban. Keluarga menduga terdapat unsur penganiayaan, meski hingga kini belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab.
“Kami ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi terhadap anak kami. Karena itu laporan resmi kami sampaikan ke Polres Kobar agar semuanya bisa terang,” ujar Budi didampingi kuasa hukumnya, Tesha Paramitta Nugrahaning Widhi, Kamis, 7 Mei 2026. Ia menegaskan selama ini anaknya tidak memiliki riwayat penyakit serius dan dalam kondisi sehat sebelum tinggal di pondok pesantren tersebut.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kotawaringin Barat AKP Muhammad Fachrurrozi membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan terhadap santri tersebut. Polisi disebut telah meminta keterangan dari sejumlah pihak guna mendalami peristiwa itu. Hingga berita ini ditulis, pihak pondok pesantren yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan.(bob)







