Maggot, Konventor Sampah Organik yang Ajaib

oleh
FOTO ISJN PELATIHAN : Para peserta pelatihan sedang mendengarkan penjelasan dari instruktur tentang cara membudidayakan maggot.

PALANGKA RAYA – Maggot merupakan belatung pemakan sampah organik yang dapat menghasilkan berbagai produk sampingan bernilai ekonomis. Maggot juga bisa menjadi solusi pengelolaan sampah berbiaya murah.

Salah satu permasalahan yang sering kali dihadapi dalam pengelolaan sebuah kota adalah meningkatnya volume sampah yang umumnya menjadi semakin kompleks seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.

Di Palangka Raya, umumnya masyarakat memanfaatkan sampah organik sebagai pakan ternak seperti babi, ayam, bebek, dan lain-lain. Hal ini cukup berbahaya, karena dengan memakan sampah dapat menimbulkan penyakit pada ternak yang dapat menyebabkan ternak menjadi sakit, atau bahkan dapat menimbulkan penyakit pada manusia yang mengonsumsi daging ternak tersebut.

Permasalahan sampah organik ini mengundang keprihatinan dari Indonesia Social Justice Network (ISJN). Langkah nyata yang dilakukan ISJN untuk menanggulangi permasalahan sampah adalah dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot secara gratis yang dilaksanakan pada Sabtu (24/9/2022) di Komplek UPR, Palangka Raya dengan nara sumber dari Borneo Sustainable Farm (BSF).

Dalam pelatihan ini, sebanyak lima belas orang peserta diajarkan teori dan praktik tentang biokonversi sampah organik menggunakan maggot BSF, penggunaan maggot sebagai pakan alternatif untuk peternakan, dan pemanfaatan kotoran maggot sebagai pupuk organik.

 “Ide untuk mengadakan pelatihan budidaya maggot dipilih karena kemampuan maggot untuk mengkonversi sampah organik dapat menjadi salah satu solusi cerdik dan lestari dalam menuntaskan permasalahan sampah organik di perkotaan,” ujar Berlianti ISJN  representatif di Kalimantan Tengah.

Popularitas budidaya maggot BSF telah mendunia dan banyak dilakukan  baik dalam skala rumah tangga maupun industri karena terbukti  sangat mudah, murah, dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, dan menguntungkan. Dengan menggandeng Cicilia, owner sekaligus pimpinan BSF sebagai trainer dalam pelatihan ini, Berlianti meyakini bahwa budidaya maggot akan segera booming di Kota Palangka Raya.

Pada awalnya, beberapa peserta pelatihan mengernyitkan hidung. Lokasi budidaya maggot ini memang mengeluarkan bau yang khas. “Ini adalah bau ciri khas kandang maggot. Baunya merupakan campuran dari bau sampah organik dan bau kencing dan kotoran maggot. Namun bukan bau busuk seperti umumnya sampah organik,” jelas Cicilia lebih lanjut.

Menurut Cicilia, berternak maggot tidak sulit, karena hanya perlu diberikan makan sampah organik yang biasanya tersedia di setiap rumah tangga, rumah makan, peternakan, dan lain-lain.

Sementara itu, harga jual maggot cukup menggiurkan. Satu kilo maggot segar dihargai Rp.10 ribu. Sementara maggot kering dihargai lebih mahal Rp100 ribu per kilogram. Sedangkan kasgot (kotoran maggot) di jual Rp.20 ribu per kilogram. “Kasgot ini sangat diminati konsumen, sebab hasilnya sangat bagus untuk pertumbuhan tanaman” ujar Cicilia,

“Kami sampai sering kehabisan stok dan sudah banyak daftar tunggu khusus untuk pemesanan kasgot ini,” beber Cicilia.

Seiring penjelasan Cicilia, para peserta semakin bersemangat untuk ikut menyentuh makhluk ini, terlebih saat Cicilia membeberkan tentang keuntungan dan manfaat budidaya maggot yang belum banyak diketahui orang. Para peserta dengan cermat memperhatikan desain ‘rumah’ maggot agar dapat dibuat dan dimodifikasi sesuai dengan kondisi di tempat masing-masing.

Saat penutupan kegiatan pelatihan, setiap peserta ‘dioleh-olehi’ paket yang berisi buku panduan budidaya, pupuk kasgot, maggot kering, dan juga maggot hidup yang diharapkan dapat menjadi starter kit bagi para peserta untuk memulai upaya budidaya maggot di rumah masing-masing.

Markurius Abednego, salah satu peserta pelatihan asal Kasongan menyatakan rasa terima kasihnya atas kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. “Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk mengatasi permasalahan sampah organik dan juga dapat menjadi peluang usaha di tingkat rumah tangga” ujar Markurius.

Markurius yang merupakan pegiat pembuatan eco enzym menyatakan bahwa dalam sehari dapat memproduksi hingga enam kilogram sampah kulit buah-buahan, sehingga dirinya sangat memerlukan solusi untuk menangani sampah organik. Peserta lainnya juga menyatakan kebutuhan yang sangat besar akan solusi menuntaskan sampah organik terkait dengan usaha mereka.

“Pelatihan ini kita berikan secara gratis dengan harapan agar budidaya maggot ini dapat digelorakan di Kalimantan Tengah sebagai peran aktif masyarakat dalam menangani sampah,” tutup Berlianti (rls/sma).