“Arsitek bangunan gereja ini sesuai dengan pesan Tjilik Riwut untuk memasukan unsur angka 17,8 dan 45 sebagai simbol hari kemerdekaan RI. Sehingga diwujudkan dalam bentuk 17 tiang, segi delapan bentuk gereja dan tegel pertama altar berjumlah 45 buah,” tambahnya.
Setelah itu, pada 3 April 1967, Gereja Paroki St Perawan Maria diberkati dan diresmikan Mgr W Demarteau MSF yang dibarengi dengan didirikannya SD Katolik St Yohanes Don Bosco dan SMPK Santo Paulus Palangka Raya.
Setelah sekian lama, wilayah paroki ini dilayani pastor dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), sehingga tahun 1984 Uskup Banjarmasin Mgr FX Prajasuta MSF menyerahkan pelayanan kepada Kongregasi Serikat Sabran Allah (SVD) dengan pastor parokinya P Clemens Cletus Da Cunha SVD didampingi Pastor Gabriel Kalen Wujon SVD. Jumlah umat katolik saat itu berkisar 1.180 jiwa.
Seiring berjalannya waktu dan umatnya semakin bertambah serta memperhatikan perkembangan kehidupan menggereja di Kalteng, maka Tahtah Suci Vatikan menetapkan Kalteng menjadi keuskupan sendiri. Setelah sebelumnya berada di bawah Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Sehingga uskup pertama pada saat itu adalah Mgr JA Husin MSF. Maka dengan sendirinya Paroki Santa Perawan Maria Palangka Raya menjadi paroki katedral,” tambahnya.
Karena jumlah umat terus bertambah dan kapasitas gereja tidak dapat menampung lagi, maka muncul gagasan untuk membangun gereja baru lagi. Sehingga kemudian dilakukan peletakan batu pertama pada tahun 1995 untuk gereja katedral yang baru, masih dalam komplek yang sama. Setelah pembangunan gereja baru selesai, bangunan gereja lama dialihfungsikan menjadi gedung serba guna. Pada tahun 2003, diadakan misa deskralisasi untuk memindahkan kesaktian menuju gereja baru.
Tahun 2003, Uskup Palangka Raya Mgr AM Sutrisnaatmaka MSF sudah menggagas pemekaran gereja baru. Setelah semua prises berjalan, maka tahun 2010 dilaksanakan perayaan ekaristi di gereja katedral sebagai deklarasi lahirnya Paroki Yesus Gembala Baik (YGB) Palangka Raya yang berada di Jalan Tjilik Riwut Km 9 Palangka Raya.
“Saat ini gereja katedral menjadi gerejanya uskup yang didelegasilan kepada pastor paroki untuk mengelola. Sehingga menjadi pusat perhatian dan orientasi menuju ke kereja katedral. Sehingga diharapkan gereja katedral dapat memberikan contoh untuk menggerakan seluruh keuskupan,” ungkapnya.
Jumlah umat Katolik di Keuskupan Palangka Raya yang mencakup seluruh Kalimantan Tengah mencapai saat ini adalah 91.000 lebih jiwa. Jumlah gereja untuk paroki ada 28. Jumlah biarawati 170 orang lebih dan biarawan 160 lebih. Sementara jumlah umat paroki di Gereja Katedral Santa Maria Palangka Raya sebanyak 3.134 jiwa.
Setelah pemekaran Paroki YGB, maka Paroki Katedral perlu mempersiapkan lokasi baru untuk pemekaran kedua di wilayah bagian selatan katedral. Tujuannya adalah pelayanan pastoral yang lebih efektif.
Terkait dengan akan dijadikan lokasi cagar budaya oleh pemerintah, diharapkan dapat mempertahankan nilai budaya sebagai simbol lahirnya umat Katolik di Kalteng hingga saat ini. “Gereja ini menjadi salah satu gereja Katolik tertua di Kalteng, selain gereja Katolik yang berada di Muara Teweh,” katanya.







