Sayangnya, Medali Itu Bukan untuk Kalteng

oleh
DIBALAS PRESTASI: Fransiska Sandra Dewi (tengah) menahan tangis saat meraih medali emas pada ajang PON XX Papua, beberapa waktu lalu. FOTO: DOK PRIBADI UNTUK KALTENG POS

Apa yang terjadi itu menjadi cambuk bagi Dewi, yang di saat yang sama berhenti kuliah di Universitas Palangka Raya.

“Saya benar-benar bingung saat itu. Padahal hasrat saya untuk tampil di ajang PON begitu besar. Di satu sisi, anterior cruciate ligament (ACL) saya robek,” ungkap .

Tekad Dewi menjadi seorang atlet profesional begitu kuat, walau orang tua menentang keinginannya itu. Bahkan orang tuanya pernah memintanya untuk meninggalkan dunia pencak silat.

“Ibu meminta saya untuk setop, lalu fokus kuliah dan kerja. Namun dari kecil sangat kepingin jadi atlet PON. Saya minta kepada mama agar memberi kesempatan sekali lagi. Jika gagal lolos PON, maka saya akan balik ke Palangka Raya,” ujar perempuan berhijab ini.

Dewi pun menerima tawaran Heri Hermansyah, Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)  Kabupaten Muba. Mereka mengurus pemulihan cederanya dan memberikan sarana prasarana latihan yang memadai. Beberapa bulan kemudian, mulai uji tanding Pra-PON di bawah arahan pelatih pencak silat Sumsel, Abas Akbar.

“Saat tampil di Pra-PON, saya hanya dapat medali perak, api tetap lolos ke PON. Saya kalah sama atlet pencak silat Jawa Tengah, Paradila Rahma,” sebutnya.

Ketika Dewi menundukkan Siti Nur dari Kalimantan Timur di laga final, orang tuanya pun ikut menyaksikan melalui live streaming. “Saat saya telepon, mereka menangis terus, sampai enggak bisa ngomong apa-apa,” bebernya.

“Dulu Dewi izin pergi dari Palangka Raya untuk juara 1 di PON, dan ini sudah terwujud, medali ini saya persembahkan buat mama dan papa,” ucapnya.

Dewi menyebut, ada hal yang membuat Kalteng berbeda dengan daerah lain. Yakni soal fasilitas dan sarana prasarana. Padahal dari segi kualitas dan kuantitas atlet, sangat mumpuni.

“Sebenarnya saya menunjukkan saya mampu mengharumkan nama Kalteng, walaupun membela Sumsel,” tegasnya.

Dewi sangat menyadari, apa yang ia raih ini masih kurang lengkap. Karena Kalteng tidak dapat tampil di PON cabor pencak silat, dan dirinya tidak membawa bendera Kalteng di ajang PON. Meski demikian, prestasi yang diraihnya membuktikan bahwa potensi anak muda Kalteng luar biasa jika diasah secara benar.