Warga Miskin Dapat STB Gratis, Layar Bersih, dan Banyak Pilihan Channel

oleh
oleh
MASIH ANALOG: Darmanto bersama kedua cucunya tengah menonton siaran televisi analog, Selasa (1/11). Warga Jalan Antang Kalang itu belum memiliki dekoder televisi digital.

Sementara bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, Agus meminta untuk bersabar menunggu hingga awal tahun 2023 untuk mendapatkan STB gratis dari pemerintah. “Untuk masyarakat menengah ke bawah mohon bersabar ya, menunggu sampai awal tahun 2023 nanti, mudah-mudahan suplai dari Kemenkominfo segera sampai,” ucapnya.

Disebutkan Agus, pada dasarnya program peralihan dari televisi analog ke televisi digital ini mengharapkan kemandirian masyarakat. Namun pemerintah juga membantu melalui program pembagian gratis kepada keluarga miskin. Di samping itu, penyelenggara-penyelenggara peralihan televisi digital dari masing-masing stasiun televisi, juga akan membantu membagikan perangkat elektronik kepada masyarakat dalam rangka peralihan ini.

“Suka tidak suka, kita yang hidup di era digital ini memang harus siap untuk menghadapinya, walaupun setiap revolusi atau perubahan itu tentu ada kekurangan-kekurangan, sambil berjalan kita akan benahi,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalteng Ilham Busra menjelaskan, analog switch off (ASO) akan tergantung pada lembaga penyiaran masing-masing. Artinya, tidak semua menerapkan total digital, tapi ada juga yang semidigital. Yang dimaksud semidigital yakni ada sebagian channel atau saluran yang masih bisa tayang pada televisi analog.

“Ada stasiun televisi yang menerapkan digital dan ada yang semidigital, artinya televisi analog masih bisa mengakses chanel yang ada. Contohnya Indosiar, total digitalnya hanya berlaku di wilayah Jabodetabek, sedangkan di luar itu bisa menggunakan pola analog dan pola digital,” tutur Ilham.

Sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab dalam mengawasi lembaga penyiaran, Ilham berpendapat bahwa kebijakan pengalihan dari televisi analog ke televise digital merupakan hal yang positif, sekaligus menjalan amanat Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020.

“Dengan adanya ASO ini memperingan frekuensi-frekuensi yang ada di Kalteng, dari yang awalnya satu frekuensi hanya bisa digunakan beberapa slot, sekarang satu frekuensi bisa digunakan untuk 12 slot, sehingga jaringan 4G di Kalteng bisa masuk lebih cepat,” tegas Ilham.

Ia juga menambahkan, dengan adanya digitalisasi televisi, masyarakat akan mendapat tiga keuntungan. Yakni kualitas gambar lebih bersih, suara lebih jernih, dan teknologi lebih canggih.

Ia juga menghimbau masyarakat menggunakan STB yang standar. Ada 32 spek yang dirilis oleh Diskominfo.

Menanggapi kebijakaan peralihan siaran televisi ini, Lina selaku pemilik Toko Sinar Jaya Elektronik di Jalan S Parman, Palangka Raya mengaku sudah mengetahui soal kebijakan ASO. Dikatakannya bahwa selama ini banyak konsumen yang membeli STB ketimbang televisi digital.

”Lebih banyak yang beli STB ketimbang TV digital, mungkin karena mereka sudah punya TV di rumah, maka dari itu mereka hanya beli STB karena harganya kisaran 200 ribu, kalau TV kan jutaan,” ucap Lina.

Ia membenarkan bahwa televise digital memiliki kulaitas gambar dan suara lebih jelas dan opsi saluran yang lebih banyak. Sedangkan televisi analog tergantung pada kebijakan pemerintah karena memang menggunakan satelit Palapa yang lama. “Sebelum adanya kebijakan ini, masyarakat yang beli STB sudah ada yang mengeluh karena gambar sudah mulai buram,” jelas Lina.

Hal yang sama disampaikan H Suryani, pemilik toko elektronik di Pasar Besar Palangka Raya. Ia menyebut bahwa belakangan ini lebih banyak yang membeli STB.

“Mereka beli STB karena kualitas hampir sama saja dengan televisi digital, kami juga menggunakan STB, kalau beli televisi kan banyak yang mengaku tidak ada uang,” tegas Haji Suryani. (*/ce/ala/ko)