Sya’ban Siap, Ramadan Mantap

oleh
oleh
Oleh:
Ahmadi

TIDAK terasa saat ini kita telah memasuki Bulan Sya’ban yang berarti sebentar lagi kita akan sampai di Bulan Ramadan. Bulan yang penuh dengan kemuliaan, keberkahan, keampunan dan dirindukan oleh segenap umat muslim. Salah satu makna kata ‘Sya’ban’ berasal dari kata syi’ab, yang bisa dimaknai sebagai “jalan setapak menuju puncak”.

Dalam konteks ini, bulan Sya’ban dapat dimaknai sebagai bulan persiapan yang disediakan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menapaki dan menjelajahi keimanannya sebagai persiapan menghadapi puncak bulan Ramadan. Hadirnya bulan Sya’ban sebelum bulan Ramadan, seolah menjadikan bulan ini sebuah pintu gerbang yang mengingatkan kita untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya, membawa bekal persiapan yang cukup untuk menghadapi dan memasuki suasana serta kondisi baru pada bulan Ramadan.

Tujuannya, agar tidak kaget ketika memasuki bulan Ramadan.

Meniti perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Minimal memerlukan persiapan-persiapan yang terkadang sangat melelahkan dan menguras energi. Pekerjaan mendaki, mengharuskan berbagai macam latihan. Sebagaimana seseorang yang akan mendaki sebuah gunung maka ia harus melakukan latihan-latihan, membawa perbekalan yang cukup dan persiapan-persiapan lainnya. Begitu pula meniti langkah menuju Ramadan, maka selama bulan Sya’ban, tentunya pendakian itu mengharuskan kesungguhan hati dan niat yang suci ikhlas karena Allah SWT. Beberapa persiapan di bulan Sya’ban menunggu datangnya Ramadan antara lain: Pertama, berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan. Para ulama terdahulu begitu sungguh-sungguh berdoa, bahkan sejak enam bulan sebelumnya, dan selama enam bulan berikutnya. Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu jika masih ada hutang puasa. Mengganti puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadan berikutnya, karena menunda ganti puasa sampai masuk Ramadan berikutnya adalah dosa. Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Ini adalah persiapan penting yang sering diabaikan banyak orang. Sesungguhnya beramal tanpa ilmu bisa menjadikan amal sia-sia.

Keempat, persiapan jiwa dan spiritual.

Mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah SAW. Penyucian jiwa dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, tawakal dan amalan hati lainnya. Kelima, persiapan dana (finansial).

Ini juga diperlukan, karena pada bulan Ramadan, setiap muslim dianjurkan perbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah, dan ifthar (memberi bukaan). Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan.

Bulan Ramadan juga perlu menjaga fisik agar tetap sehat, fit dan kuat.

Baca Juga:  Listrik Padam, Api Menyala. SMKN 2 Nyaris Terbakar

Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Bila fisik sehat maka mudah melakukan ibadah. Tetapi sebaliknya, fisik yang tidak sehat tentu akan mengganggu aktivitas selama berpuasa.

Selain persiapan di atas, sangat dianjurkan untuk melakukan warming up dengan banyak melakukan puasa sunnah. Rasulullah SAW telah memberi contoh untuk melakukan latihan- latihan di bulan Sya’ban berupa peningkatan kuantitas berpuasa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah ra. disebutkan: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, dan tidak pernah melihat Rasulullah memperbanyak puasa dalam satu bulan selain bulan Sya’ban” (HR. Bukhari). Dalam hadis lain disebutkan bahwa istri beliau Ummu Salamah ra mengatakan: “Saya tidak pernah mendapatkan Nabi SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadan.” (HR An-Nasai). Dari hasis ini dapat kita pahami bahwa Rasulullah SAW hampir berpuasa Sya’ban seluruhnya. Para ulama menyebutkan bahwa puasa di bulan Sya’ban meskipun dia hanya puasa sunnah, tetapi memiliki peran penting untuk menutupi kekurangan puasa wajib di bulan Ramadan. Seperti shalat fardhu, shalat fardhu memiliki shalat sunnah rawatib, yaitu: qabliyah dan ba’diyah. Shalat-shalat tersebut bisa menutupi kekurangan shalat fardhu yang dikerjakan. Sama halnya dengan puasa Ramadan, dia memiliki puasa sunnah di bulan Sya’ban dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Orang yang memulai puasa di bulan Sya’ban insya Allah tidak terlalu kesusahan menghadapi bulan Ramadan.

Pendakian menuju puncak di bulan Sya’ban ini juga dapat dilakukan dengan cara banyak beristighfar dan meminta ampun atas segala dosa yang telah kita lakukan di bulan- bulan sebelumnya. Baik dosa yang kasat mata maupun dosa yang adanya di dalam hati yang tidak kasat mata. Dosa yang tidak kasat mata ini bahkan terkadang lebih menumpuk dibandingkan dosa yang kasat mata, seperti ujub, riya, sum’ah, takabur, iri, dengki dan lain sebagainya. Dengan berpuasa dan banyak istighfar serta melakukan amaliyah-amaliyah shalihah yang lainnya, kita berharap sudah benar-benar mantap dan siap untuk memasuki dan meraih kemuliaan bulan Ramadan yang sebentar lagi akan datang. Selanjutnya pula oleh para ulama kita sangat dianjurkan di Bulan Sya’ban ini untuk berdo’a dengan do’a berikut: Allahumma bâriklanâ fἱ syahr sya’bân wa ballignâ Ramadhân… Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Sya’ban ini, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan mendatang. Wallahu a’lam. (ko)