Karhutla Kobar Terus Meningkat, Danlanud Iskandar: Kerja Sama Semua Pihak Jadi Kunci

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus meningkat. Hingga 13 Agustus 2026 pukul 18.30 WIB, tercatat 379 titik panas, 168 kejadian karhutla, dan luasan lahan terbakar mencapai 622,1 hektare.

Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto menegaskan penanganan karhutla tidak bisa dibebankan kepada satu instansi. Kerja sama seluruh pihak, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD hingga masyarakat, menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas.

Menurutnya, sinergi diperlukan mulai dari pemantauan titik panas, deteksi dini, pengerahan personel hingga proses pemadaman. Kecepatan bergerak di lapangan dinilai penting ketika api ditemukan di wilayah rawan.

“Kerja sama semua pihak menjadi kunci dalam menghadapi karhutla. Kita harus bersama-sama melakukan pencegahan dan penanganan agar api tidak meluas,” ujar Nugroho, Jumat (14/6/2026).

Lanud Iskandar turut mendukung upaya penanganan karhutla di Kobar. Keterlibatan personel TNI AU menjadi bagian dari operasi bersama menghadapi ancaman kebakaran yang meningkat di tengah kondisi kering.

Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap kejadian karhutla. Informasi titik panas menjadi salah satu bahan deteksi dini untuk menentukan langkah di lapangan.

“Pemantauan terus dilakukan. Ketika ada laporan atau indikasi kebakaran, tim segera melakukan penanganan untuk mencegah api meluas,” kata Samuel.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 379 titik panas di Kobar sepanjang 2026 hingga 13 Agustus. Lonjakan paling tajam terjadi pada Agustus dengan 252 titik panas, sementara Juli tercatat 78 titik.

Rekapitulasi BPBD Kobar juga mencatat 168 kejadian karhutla dengan luasan mencapai 622,1 hektare. Arut Selatan menjadi wilayah paling terdampak dengan 85 kejadian dan luasan terbakar sekitar 413,56 hektare.

Angka tersebut menunjukkan karhutla masih menjadi ancaman serius. Di tengah peningkatan titik panas dan luasan terbakar, kolaborasi TNI AU, TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, serta masyarakat menjadi faktor penting untuk memperkuat pencegahan, mempercepat respons dan menekan dampak karhutla di Kobar. (ko)