Udara Kobar Berbahaya, PM2.5 Tembus 453,7 µg/m³, ISPA Melonjak

oleh
oleh

PANGKALAN BUN, Kaltengonline.com — Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, berada pada kategori berbahaya. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 453,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Kamis (24/9/2026) pagi. Di tengah kondisi tersebut, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kobar juga menunjukkan lonjakan pada periode sebelumnya.

Data Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 453,7 µg/m³ pada pukul 08.14.57 WIB. Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, S.Tr, membenarkan adanya peringatan dini kualitas udara tersebut.

“Tercatat konsentrasi PM2.5 sebesar 453,7 µg/m³ dengan kategori ISPU berbahaya,” ujar Ni Kadek berdasarkan hasil observasi Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat.

Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikulat halus tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan. BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya dan terus memantau perkembangan kualitas udara.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardino menyampaikan kasus ISPA menjadi kasus yang paling dominan berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Hingga Minggu Epidemiologi ke-36, tercatat sekitar 14.086 kasus ISPA secara kumulatif sepanjang 2026.

Lonjakan paling jelas terjadi pada M-28 hingga M-31. Kasus ISPA meningkat dari 335 kasus pada M-28 menjadi 457 kasus pada M-29, kemudian 468 kasus pada M-30 dan mencapai 566 kasus pada M-31.

Kenaikan tersebut berarti kasus ISPA meningkat sekitar 68,9 persen dalam rentang M-28 hingga M-31. Setelah mencapai puncak, kasus turun menjadi 514 kasus pada M-32, 461 kasus pada M-33 dan 422 kasus pada M-34.

Namun, kasus kembali meningkat pada M-35 menjadi 534 kasus atau naik 26,5 persen dibandingkan M-34. Pada M-36, kasus turun menjadi 471 kasus, tetapi masih sekitar 40,6 persen lebih tinggi dibandingkan M-28.

Hardino mengatakan peningkatan ISPA tersebut secara waktu beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kobar sejak Juli 2026. Paparan asap dan partikulat akibat kebakaran disebut sebagai salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.

Meski demikian, Dinas Kesehatan tidak menyimpulkan karhutla sebagai penyebab langsung kenaikan ISPA. Menurut Hardino, kasus juga dapat dipengaruhi kondisi cuaca, infeksi saluran pernapasan, mobilitas penduduk, perilaku pencarian pengobatan serta kondisi kualitas udara.

Dengan kondisi PM2.5 yang mencapai 453,7 µg/m³, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Dinas Kesehatan juga mendorong penguatan surveilans ISPA, pneumonia dan ILI selama aktivitas karhutla masih berlangsung serta mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. (ko)