Okki Ingatkan Relawan Pantang Kendor Matikan Sisa Bara Karhutla

oleh
oleh
Okki Maulana
Okki Maulana

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) membawa secercah harapan, usai berbulan-bulan masyarakat dikepung ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kendati jumlah titik panas (hotspot) berangsur susut, relawan pemadam kebakaran di Kota Palangka Raya pantang mengendurkan kewaspadaan.

Anggota Komisi IV DPRD Kalteng sekaligus Ketua Forum Relawan Damkar dan Pertolongan Kota Palangka Raya, Okki Maulana, memastikan sisa bara api di lahan kering masih menjadi fokus utama. Upaya pemantauan dan pendinginan terus dimaksimalkan, agar api benar-benar padam dan tidak kembali berkobar.

“Titik panas saat ini sudah sangat berkurang jauh jika dibandingkan saat karhutla berada pada puncaknya. Namun, penurunan signifi kan ini tidak serta-merta membuat operasi penanganan di lapangan dihentikan,” ujar Okki, Kamis (29/10).

Ia menjelaskan, proses pendinginan mutlak diperlukan untuk membunuh sisa bara yang kerap tersembunyi di bawah permukaan lahan. Langkah preventif ini krusial untuk mencegah meluasnya kembali kebakaran yang berpotensi memicu bencana kabut asap pekat.

Di sisi lain, Okki mengungkapkan, perjuangan para relawan di lapangan tidaklah mudah dan kerap terbentur kendala teknis.

Peralatan vital seperti mesin alkon (pompa air) sering kali mengalami kerusakan lantaran kondisi sumber air yang sangat terbatas dan keruh di lokasi kebakaran.

“Saat beroperasi di lapangan, mesin alkon ini kadang menyedot pasir, batu, dan berbagai material lumpur lainnya. Hal itulah yang memicu kerusakan mesin kawan-kawan relawan,” jelas politikus tersebut.

Kerusakan peralatan ini diakui menjadi tantangan berat, mengingat mesin pompa air merupakan urat nadi untuk menyuplai air dalam operasi pemadaman. Meski terkendala alat, Okki memastikan seluruh relawan tetap berkomitmen penuh untuk menuntaskan proses pendinginan hingga Palangka Raya benarbenar aman dari sisa karhutla. (zia/ko)