Tanam Serentak 284 Hektare, Kotim Perkuat Ketahanan Pangan dan Produksi Padi

oleh
oleh
Pj Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi saat melakukan tanam serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat, Kamis (9/4) kemarin.
Pj Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi saat melakukan tanam serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat, Kamis (9/4) kemarin.

SAMPIT, Kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengakselerasi sektor pertanian dengan menggelar penanaman padi serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR), Kamis (9/4). Total lahan yang digarap mencapai sekitar 284 hektare dan tersebar di sejumlah kecamatan.

Langkah ini menjadi strategi konkret untuk memperluas areal tanam sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian, khususnya sawah tadah hujan yang selama ini belum tergarap maksimal.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi menjelaskan, gerakan tanam serentak tersebut merupakan bagian dari program nasional yang dipusatkan di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Untuk wilayah Kalimantan Tengah, target penanaman ditetapkan seluas 5.000 hektare, dengan Kotim dipercaya sebagai perwakilan pelaksanaan seremonial.

Di tingkat daerah, kegiatan dipusatkan di lahan CSR Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang. Lahan yang dikelola Kelompok Tani Mandiri Makmur itu memiliki total luas 35 hektare, dengan sekitar 5 hektare di antaranya telah langsung ditanami.

Menurut Umar, gerakan ini menjadi langkah tepat dalam menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian, terutama menjaga stabilitas ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim ekstrem dan dinamika krisis global.

Baca Juga:  WFH ASN Kotim Diterapkan, Bupati Tegaskan Bukan Hari Libur

“Petani kita terus didorong memanfaatkan momentum tanam secara tepat, mengelola sumber daya secara efi sien, serta meningkatkan indeks pertanaman dengan pendampingan penyuluh,” ujarnya.

Ia menegaskan, program tersebut sejalan dengan arahan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi nasional, sekaligus mendorong kemandirian pangan berbasis potensi lokal.

“Pangan adalah fondasi kedaulatan. Jika ingin daerah maju, maka ketahanan pangan harus lebih dulu kuat,” tegasnya.

Umar juga mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif menjaga keberlanjutan swasembada pangan di Bumi Habaring Hurung melalui kerja sama lintas sektor.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya ketepatan waktu tanam. Berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim kemarau diprediksi mulai pada pekan ketiga Juni, dengan puncak kemarau terjadi pada September hingga Oktober tanpa hujan.

“Dengan masa tanam sekitar empat bulan, mulai April hingga Juli, kita optimistis panen bisa dilakukan pada Agustus,” pungkasnya.(bah/ans/ko)