Pangkalan Bun, kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Pemkab Kobar) hadir mengiringi pemakaman ilmuwan konservasi orangutan kelas dunia, Birute Mary Galdikas, yang berlangsung di Pangkalan Bun, Rabu (15/4). Prosesi perpisahan dilakukan dengan nuansa adat Dayak, menandai penghormatan terakhir bagi sosok yang mendedikasikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian alam.
Sejak disemayamkan di rumah duka di Desa Pasir Panjang, pelayat terus berdatangan. Jajaran Pemkab Kobar, termasuk Wakil Bupati Suyanto, tampak hadir bersama tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan, menyatu dalam suasana duka yang khidmat.
Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat, Suyanto menyampaikan belasungkawa mendalam. Ia menilai kepergian Galdikas bukan sekadar kehilangan seorang ilmuwan, tetapi juga sosok yang telah membangun fondasi penting dalam studi orangutan dan konservasi hutan tropis.
Menurutnya, kiprah Galdikas sejak memulai penelitian pada 1971 telah mengubah cara dunia memandang orangutan di habitat alaminya. Dedikasi panjang itu melahirkan pengetahuan sekaligus kesadaran global akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Pemkab Kobar, kata Suyanto, berkomitmen melanjutkan semangat yang telah dirintis. Upaya pelestarian orangutan dan habitatnya akan terus diperkuat, terutama di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang selama ini menjadi pusat penelitian dan konservasi.
Dalam pandangan pemerintah daerah, warisan terbesar Galdikas bukan hanya hasil riset, melainkan nilai ketekunan, integritas, dan konsistensi dalam menjaga prinsip keilmuan. Hal itu menjadi pijakan penting bagi generasi penerus dalam merawat lingkungan.
Prosesi pemakaman berlangsung haru, diawali dengan ritual adat yang sarat makna. Kehadiran berbagai kalangan menunjukkan bahwa jejak pengabdian Galdikas melampaui batas wilayah dan generasi.
Kepergian ilmuwan ini meninggalkan duka, tetapi juga pesan kuat: bahwa ilmu pengetahuan dan konservasi harus terus berjalan, sebagaimana yang telah ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

