SAMPIT, Kaltengonline.com – Penantian panjang selama tujuh tahun akhirnya berbuah manis. Layanan Catheterization Laboratory (Cath Lab) di RSUD dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini resmi beroperasi melayani tindakan intervensi bagi pasien penderita penyakit jantung.
Kehadiran fasilitas mutakhir ini menjadi tonggak sejarah baru dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Kotim. Bupati Kotim, H Halikinnor, menyampaikan rasa syukurnya atas terobosan yang telah lama didambakan masyarakat tersebut.
”Alhamdulillah, untuk pertama kalinya RSUD dr Murjani berhasil melaksanakan tindakan Cath Lab perdana. Ini adalah lompatan besar di sektor kesehatan kita, karena masyarakat kini dapat memperoleh penanganan penyakit jantung tanpa harus repot keluar daerah,” ujar Halikinnor, Senin (29/6).
Peresmian operasional ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Jejaring Pengampuan Cath Lab. RSUD dr Murjani kini resmi berafiliasi dengan RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya sebagai rumah sakit pengampu tingkat regional, serta Pusat Jantung Nasional RS Harapan Kita sebagai pengampu nasional.
Seusai penandatanganan, Bupati bersama jajaran langsung meninjau proses tindakan intervensi non-bedah perdana di ruang Cath Lab. Menurut Halikinnor, terealisasinya layanan berstandar nasional ini merupakan buah sinergi yang apik antara Pemkab Kotim, Pemprov Kalteng, Kementerian Kesehatan, hingga rumah sakit pengampu.
Fasilitas Cath Lab ini diakui menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Berdasarkan data RSUD dr Murjani, saat ini tercatat ada lebih dari 8.000 pasien penyakit jantung di Kotim. Sebagian besar di antaranya membutuhkan tindakan intervensi medis segera, seperti pemasangan ring akibat penyumbatan pembuluh darah.
”Dengan tingginya angka penderita jantung, kebutuhan tindakan Cath Lab diestimasikan mencapai 13 hingga 15 pasien setiap hari. Karena itu, kami sangat bersyukur layanan vital ini akhirnya dapat diwujudkan di Sampit,” papar Halikinnor.
Sebelum fasilitas ini tersedia, pasien jantung asal Kotim terpaksa dirujuk ke Palangka Raya, Banjarmasin, atau bahkan harus diterbangkan ke Pulau Jawa. Rantai rujukan yang panjang ini tidak hanya memakan waktu krusial penanganan pasien, tetapi juga membengkakkan beban biaya operasional bagi keluarga pengantar.
”Ke depan, melalui jejaring pengampuan yang ada, RSUD dr. Murjani tidak hanya melayani warga Kotim. Rumah sakit ini diproyeksikan menjadi pusat rujukan penanganan jantung bagi kabupaten-kabupaten tetangga di Kalteng yang belum memiliki fasilitas serupa,” pungkas Halikinnor. (bah/ko)







