Harga BBM Eceran di Pelosok Kobar Tembus Rp 25 Ribu

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayah pelosok kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, melonjak. Di Kecamatan Arut Utara, harga pertalite per botol disebut mencapai Rp 20 ribu, bahkan ada pengecer yang menjual harga Rp 25 ribu.

Kondisi tersebut membuat warga harus merogoh rakyat lebih dalam untuk mendapatkan BBM. Ahmad Yani keluarga Kotawaringin Barat mengatakan tingginya harga eceran terjadi karena pasukan BBM sulit diperoleh.

Menurut Ahmad, pengecer juga membeli BBM dari pemasok dengan harga tinggi. Ada pemasok yang menjual kepada pengecer sekitar 18.000 per botol. Bahkan, kata dia, sebagian BBM dijual dengan harga lebih dari rp20.000, Kamis (6/8/2026).

Seorang pengecer yang enggan disebutkan namanya mengatakan harga tersebut berkaitan dengan panjangnya antrian dan sulitnya mendapatkan BBM. Pengajar harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperoleh pasokan sebelum menjualnya kembali kepada masyarakat.

Di wilayah kecamatan Arut Selatan, terutama kawasan dalam kota, kondisi serupa terjadi dengan jenis BBM berbeda. Pengecer lebih banyak menyediakan Pertamax dengan harga sekitar rp20.000 per botol.

Siti, Warga Pasir Panjang, mengatakan Pertamax yang dijualnya diperoleh dari pemasok dengan harga sekitar 17.000 hingga rp18.000 per liter. Adapun pertalite menurut dia, sudah tidak lagi diantar oleh pemasok, mungkin pemasok mengantar ke pelosok.

Persoalan itu mendapat sorotan dari anggota DPRD Kotawaringin Barat, Arif Asrofi, iya menilai upaya pemerintah daerah dan DPRD belum cukup menyelesaikan persoalan antrian dan sulitnya masyarakat memperoleh BBM.

Arif meminta Pertamina lebih tegas terhadap SPBU yang dianggap melanggar aturan. Ia mendorong izin SPBU nakal dicabut dan pelaku penyalahgunaan BBM diproses hukum. Menurut dia, kepolisian telah menjalankan tugasnya dan sejumlah pihak diamankan.

Pemerintah kabupaten Kotawaringin Barat juga telah memberikan imbauan, termasuk secara tertulis, kepada pihak yang melakukan pelanggaran. Pelaku disebut terancam sanksi dan denda hingga kurungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sales Branch Manager ll Fuel Kalimantan PT Pertamina Putra Niaga, Lucky Haryanto, meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. Dia mengatakan Pertamina mengawasi distribusi BBM melalui digitalisasi SPBU, pemantauan mobil tangki, stok, pengiriman, hingga proses pembongkaran.

Lucky menjelaskan kuota BBM ditetapkan oleh regulator, bukan Pertamina di daerah. Pertamina bertugas menyalurkan BBM sesuai kuota tersebut. Namun di tengah persoalan harga eceran yang tinggi warga pelosok tetap menghadapi persoalan utama: BBM sulit diperoleh ketika dibutuhkan. Bagi masyarakat ketersediaan BBM bukan sekedar soal kuota soal memastikan bahan bakar tersedia hingga ke wilayah pelosok dengan harga yang wajar. (ko)