Tinjau Fenomena “Gosong” Bak Pantai di Tengah Kota, Shalahuddin Kenang Masa Kecil 40 Tahun Silam

oleh
oleh
Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin ST MT didampingi Ketua TP PKK, Hj Maya Savitri Shalahuddin dan Sekda, Drs Muhlis meninjau fenomena alam daratan berpasir “Gosong” di kawasan Sungai Bengaris, Muara Teweh, Senin (24/8).
Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin ST MT didampingi Ketua TP PKK, Hj Maya Savitri Shalahuddin dan Sekda, Drs Muhlis meninjau fenomena alam daratan berpasir “Gosong” di kawasan Sungai Bengaris, Muara Teweh, Senin (24/8).

MUARA TEWEH, Kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meninjau langsung fenomena alam unik, di kawasan aliran Sungai Bengaris, Muara Teweh, Senin (24/8). Kunjungan ini dipimpin Bupati Barito Utara, H Shalahuddin didampingi istri sekaligus Ketua TP PKK Hj Maya Savitri Shalahuddin, Sekretaris Daerah Drs Muhlis, serta sejumlah kepala perangkat daerah.

Kawasan yang berlokasi di tepian Sungai Barito, tepatnya di sekitar area Pasar Pendopo tersebut, kini akrab disebut “Gosong” oleh masyarakat setempat. Fenomena daratan berpasir yang membentang luas ini, muncul akibat kemarau panjang yang menyusutkan debit air sungai secara ekstrem.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketinggian muka air Sungai Barito di Muara Teweh saat ini tersisa sekitar 0,6 meter, anjlok drastis dari kondisi normal yang berkisar 5 hingga 11,5 meter. Namun, surutnya air ini justru menyuguhkan lanskap eksotis bak pantai di tengah kota yang kini diserbu warga, sebagai destinasi wisata dadakan untuk sekadar melepas penat di sore hari.

Suasana senja di kawasan Gosong pun tampak semarak dan berbeda dari biasanya. Hamparan pasir yang meluas menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang berbondong-bondong datang untuk bersantai maupun mengabadikan momen bersama keluarga. Nuansa rekreasi makin terasa hangat dengan iringan sayup-sayup alunan musik dari arah Pasar Pendopo.

Di sela-sela kunjungannya, Shalahuddin tampak menyapa hangat warga yang tengah bersantai. Menariknya, peninjauan ini turut membangkitkan memori nostalgia sang bupati di lokasi yang sama puluhan tahun silam.

“Sekitar 40 tahun yang lalu, tempat ini adalah saksi bisu masa kecil saya. Siapa sangka, fenomena alam akibat kemarau ini justru menghadirkan lanskap unik menyerupai pantai yang kini ramai dikunjungi warga,” kenang Shalahuddin penuh haru.

Orang nomor satu di jajaran Pemkab Barito Utara tersebut, menilai fenomena Gosong menyimpan potensi ruang publik yang luar biasa. Hamparan tepian sungai yang meluas saat air surut sangat potensial dimaksimalkan, sebagai destinasi pariwisata alternatif bagi warga.

“Ini sebenarnya potensi wisata yang sangat menjanjikan. Ketika air surut, kawasan tepian ini menjadi sangat lapang dan menyajikan suasana yang berbeda. Sangat cocok menjadi ruang rekreasi dadakan bagi masyarakat Muara Teweh,” tambahnya.

Ke depan, Shalahuddin menaruh harapan, besar agar tata ruang kawasan Gosong dapat dipercantik secara permanen. Ia menginginkan, lokasi ini tidak hanya viral saat musim kemarau, tetapi bisa disulap menjadi kawasan bersantai yang nyaman untuk menikmati panorama Sungai Barito di segala musim.

Penataan kawasan yang baik diyakini akan membawa efek domino (berganda) positif bagi perekonomian warga lokal. Tingginya tingkat kunjungan dipastikan bakal membuka peluang ekonomi baru, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi.

Sebelum beranjak, bupati tak lupa menitipkan pesan penting, kepada seluruh pengunjung untuk tetap mengutamakan kebersihan dan ketertiban.

“Mari bersama-sama kita jaga kebersihan kawasan ini. Jika lingkungannya bersih, tertib, dan nyaman, pengunjung tentu akan semakin ramai. Hal ini sejalan dengan komitmen kita bersama dalam mengembangkan potensi pariwisata di Muara Teweh,” pungkasnya. (ren/ko)