Asap Karhutla Mengancam Petugas, Danlanud Iskandar Ganti Masker dengan Respirator

oleh
oleh

PANGKALAN BUN, Kaltengonline.com — Asap pekat, debu, dan partikel hasil pembakaran menjadi ancaman yang harus dihadapi petugas saat berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melihat kondisi tersebut, Komandan Lanud (Danlanud) Iskandar Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto mengambil langkah untuk memperkuat perlindungan personelnya di lapangan.

Nugroho mengganti masker medis yang sebelumnya digunakan anggota Satgas Penanggulangan Karhutla Lanud Iskandar dengan masker respirator yang dilengkapi kacamata pelindung. Langkah itu dilakukan karena kondisi lapangan dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan masker medis.

“Kemarin saya mengganti masker petugas Satgas Penanggulangan Karhutla Lanud Iskandar dari masker medis menjadi masker respirator dilengkapi dengan kacamata,” ujar Nugroho, Senin (31/8/2026).

Menurut Nugroho, banyaknya debu akibat kebakaran tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga mengganggu penglihatan petugas ketika menjalankan tugas pemadaman di lapangan. Karena itu, perlindungan terhadap personel menjadi perhatian utama.

“Karena banyak debu kebakaran yang mengganggu penglihatan mata petugas di lapangan, sehingga saya berinisiatif secara pribadi mengganti masker petugas Karhutla Lanud Iskandar, semata-mata karena demi keselamatan dan kesehatan mereka di lapangan,” katanya.

Respirator dinilai memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap partikulat asap dibandingkan masker medis. Respirator seperti N95, KN95, P2 atau yang setara dirancang untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil, termasuk partikulat halus yang terdapat dalam asap karhutla.

Selain kemampuan filtrasi, respirator juga dirancang lebih rapat pada wajah sehingga mengurangi risiko udara masuk melalui celah samping apabila digunakan dengan tepat. Hal ini menjadi penting bagi petugas yang bekerja dalam lingkungan penuh asap, debu, abu dan jelaga.

Namun, Nugroho menegaskan respirator partikulat bukan berarti mampu melindungi petugas dari seluruh bahaya asap kebakaran. N95 dan jenis respirator partikulat lainnya terutama memberikan perlindungan terhadap partikel, bukan gas beracun seperti karbon monoksida (CO).

Karena itu, pada kondisi asap sangat pekat atau ketika petugas berada dekat sumber api, perlindungan harus disesuaikan dengan tingkat bahaya dan hasil penilaian risiko di lapangan. Keselamatan petugas, kata Nugroho, tidak boleh dikesampingkan di tengah upaya penanggulangan karhutla.

Di tengah ancaman asap dan debu tersebut, Nugroho memastikan seluruh anggota Lanud Iskandar yang bertugas masih dalam kondisi sehat dan fit. Personel juga disiapkan untuk menjalankan tugas selama 24 jam dengan sistem pembagian tiga shift.

“Anggota saya di lapangan masih sehat dan fit, siap bertugas 24 jam karena tim dibagi tiga shift. Tiap shift kerja delapan jam,” tegasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan memadamkan karhutla tidak hanya soal mengejar titik api. Di balik operasi di lapangan, keselamatan dan kesehatan petugas juga menjadi prioritas agar mereka tetap mampu menjalankan tugas melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman karhutla. (ko)