PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Musim kemarau menjadi ancaman serius bagi petani di Kota Palangka Raya. Terbatasnya ketersediaan air membuat petani harus cermat menentukan waktu tanam agar modal yang dikeluarkan tidak berujung kerugian.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery. Ia meminta Dinas Pertanian tidak menunggu petani mengeluh. Pendampingan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) harus diperkuat, terutama dalam menentukan waktu tanam dan pola budidaya yang sesuai kondisi cuaca.
“Jika kondisi memang belum memungkinkan untuk memasuki masa tanam, sebaiknya jangan dipaksakan. Jangan sampai keputusan menanam di saat yang tidak tepat justru menimbulkan kerugian bagi petani,” ujar Khemal, Selasa (8/9).
Menurutnya, pertanian di tengah kemarau tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan petani mengolah lahan. Ketersediaan air, kondisi lahan, cuaca, dan ketepatan waktu tanam menjadi faktor yang saling berkaitan.
Jika kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi, pertumbuhan tanaman dapat terganggu hingga berisiko gagal panen. Dampaknya bukan hanya pada produksi, tetapi juga modal, biaya operasional, dan pendapatan petani.
Karena itu, Khemal meminta PPL aktif turun ke lapangan. Penyuluh dinilai memiliki posisi strategis untuk memastikan petani memperoleh informasi dan rekomendasi sesuai kondisi lahan.
“PPL memiliki peran penting untuk memberikan pendampingan dan informasi kepada petani, terutama mengenai langkah yang harus dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Selain pendampingan, Dinas Pertanian didorong menyiapkan langkah adaptasi menghadapi kemarau berkepanjangan. Salah satunya menyediakan benih atau varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap kekeringan.
“Dinas Pertanian dapat membantu menyediakan benih unggul yang lebih tahan terhadap kekeringan, baik untuk komoditas padi maupun tanaman hortikultura,” ujarnya.
Khemal menegaskan, bantuan benih harus dibarengi pendampingan teknis. Pemilihan varietas tidak akan optimal jika petani tetap kesulitan mendapatkan air atau tidak mengetahui pola tanam yang paling sesuai.
“Petugas harus melihat langsung kondisi yang dihadapi petani. Jangan sampai mereka harus menghadapi dampak kemarau tanpa pendampingan dan bantuan yang memadai,” tegasnya.
Ia juga meminta kawasan Kalampangan mendapat perhatian lebih. Sebagai salah satu sentra pertanian di Palangka Raya, kondisi lahan di wilayah tersebut perlu dipetakan secara berkala.
Pemetaan diperlukan untuk menentukan lahan yang masih layak ditanami, wilayah yang membutuhkan dukungan sumber air, serta area yang sebaiknya menunda masa tanam. “Harapannya persoalan lahan kering ini bisa segera ditangani sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan optimal dan dampak musim kemarau terhadap produksi pangan dapat ditekan,” pungkasnya. (zia/ko)






