Fairid Tinjau Dua Lokasi Kepungan Asap, Armada OPD Dikerahkan

oleh
oleh
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah meninjau posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kilometer 21 Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya, Minggu (20/9).
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah meninjau posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kilometer 21 Jalan Tjilik Riwut Palangka Raya, Minggu (20/9).

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Kondisi angin yang tidak menentu menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin bergerak untuk meninjau lokasi karhutla di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 17 dan Posko karhutla di Kilometer 21 membagi tim Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bantu relawan dalam pemadaman, Minggu (20/9).

Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, informasi ters disampaikan dalam koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Jadi tadi kita bersama-sama rekan-rekan ke Pal 17, kemudian ke posko karhutla di Pal 21. Itu cukup parah (asap). Kemudian ada laporan sekarang juga di Kameloh dan berbatasan sama Taruna sedang menyala api,” kata Fairid saat meninjau, Minggu (20/9).

Ia menegaskan akan menambahkan bantuan dari OPD dalam pemadaman karhutla di titik yang telah dikoordinasikan untuk menekan penyebaran api. Selain itu, arah angin yang datang dari berbagai penjuru membuat asap dari kebakaran sulit bergerak dan akhirnya berkumpul di wilayah tertentu.

Kondisi tersebut turut memengaruhi penanganan karhutla karena asap masih bertahan meski titik api telah berhasil dipadamkan. “Dari utara, dari tenggara itu masuk semua. Masuk semua akhirnya berkumpul,”ujarnya.

Fairid menerangkan perubahan kondisi cuaca saat memasuki masa pancaroba pada akhir Oktober diharapkan dapat membantu mengubah pola angin. Di sisi lain, Fairid menegaskan pentingnya pembasahan setelah proses pemadaman.

Ia mencontohkan kondisi di Kilometer 17 yang masih mengeluarkan asap meskipun api telah padam.

“Kalau malam tidak kita basahi, akan menyala lagi. Maka tim nanti akan ada ke sana malam untuk melakukan pembasahan,” tegasnya.

Pembasahan dilakukan untuk mencegah bara di dalam lahan kembali memicu kebakaran. Pemko pun akan menyesuaikan pergerakan personel dan armada dengan kondisi di lapangan serta arah perkembangan titik api. (afa/ans/ko)