Tahun 2023, LBH Mencatat 13 Kasus Agraria

oleh
oleh

Dalam sebuah kesempatan, Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran mengatakan, berbagai konflik sosial yang terjadi di Kalteng dewasa ini disinyalir banyak dipicu oleh ketidakadilan ekonomi yang dialami oleh mas­yarakat kurang mampu. Keka­yaan sumber daya alam (SDA) dan tanah yang subur tidak selalu membuat masyarakat sejahtera.

Kondisi itu disinyalir terjadi karena eksisnya sebuah pe­rusahaan tidak memberikan simpati untuk menyejahterakan masyarakat yang tinggal di seki­tar wilayah kerjanya. Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran men­gatakan, berbagai konflik sosial yang terjadi di Kalteng dewasa ini banyak dipicu oleh ketida­kadilan ekonomi tersebut. Hal itu disampaikan Sugianto saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Satgas Penanganan Konflik Sosial di Wilayah Hukum Kalteng di Aula Arya Dharma Polda Kalteng, Kamis (14/12).

“Di Kalteng ada terjadi konflik antara perkebunan dan per­tambangan. Saya ini dari orang miskin, kemiskinan itu terjadi karena ketidakadilan, baik itu keadilan ekonomi, hukum, dan lain-lain. Tapi yang sering terjadi di Kalteng adalah ketidakadilan ekonomi antara masyarakat dan perusahaan,” tuturnya.

Sugianto menjelaskan, di Kalteng terdapat hampir tiga juta hektare (ha) kebun, baik yang dimiliki oleh korporasi atau petani. Selain itu, HTI di Kalteng yang sudah beroper­asi ada kurang lebih 300.000 ha. Selain itu ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang sekarang wewenangnya di pemerintah pusat.

Baca Juga:  Direktur Pascasarjana Jadi Tersangka, Berikut Tanggapan UPR

“Nah, konflik sosial ini terjadi karena ketidakadilan itu, menurut pandangan masyarakat yang hidup miskin, tetapi dari sisi pemerintah adanya usaha itu penting untuk investasi demi pembangunan Kalteng,” tuturnya.

Menurutnya, adanya konflik yang terjadi tentu bisa berpen­garuh bagi berjalannya pemban­gunan di Kalteng. Maka dari itu ia meminta nantinya agar hasil rakor pada hari itu dirangkum. Hasilnya nanti dibahas bersama dengan direktur dari berbagai perusahaan di Kalteng guna turut mencegah konflik sosial.

“Konflik ini berawal dari da­tangnya perusahaan dan tun­tutan-tuntutan yang diajukan masyarakat, maka dari itu kita harus bersama-sama nanti memutuskan, masalah-masa­lah ini harus kita uraikan untuk dicari solusinya, lalu dibic­arakan dengan korporasi di Kalteng,” jelasnya.