Dari Pesisir Belitung, Harapan untuk Bumi Tumbuh Bersama Mangrove

oleh
oleh
Program Hutan Petrofin untuk Net Zero Emission melalui penanaman 100 pohon mangrove.

kaltengonline.com – Pagi itu, matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika sekelompok warga berjalan menyusuri tepian pesisir. Lumpur lembut menempel di kaki mereka. Di tangan masing-masing tergenggam bibit mangrove yang masih kecil. Tidak ada panggung megah. Tidak ada seremoni berlebihan. Yang ada hanyalah kesadaran sederhana bahwa masa depan lingkungan harus dibangun mulai hari ini.

Di sebuah kawasan pesisir Belitung, aktivitas menanam mangrove menjadi simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar dibanding sekadar penghijauan. Di balik bibit-bibit kecil yang ditancapkan ke tanah berlumpur, tersimpan harapan tentang masa depan yang lebih hijau, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.

Indonesia saat ini berada pada persimpangan penting dalam menghadapi perubahan iklim global. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak kenaikan muka air laut, abrasi pantai, hingga cuaca ekstrem.

Di tengah tantangan tersebut, berbagai pihak mulai mengambil peran. Pemerintah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Dunia usaha pun mulai bergerak mencari cara untuk berkontribusi secara nyata. Salah satunya melalui Program Hutan Petrofin yang dijalankan PT Elnusa Petrofin.

Program ini bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Ia merupakan upaya membangun hubungan baru antara lingkungan, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Selama bertahun-tahun, pohon sering dipandang hanya sebagai elemen penghijauan. Padahal, dalam konteks perubahan iklim, pohon memiliki fungsi yang jauh lebih strategis.

Pohon bekerja sebagai penyerap karbon alami. Mereka menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringan batang, daun, serta akar. Semakin banyak pohon tumbuh, semakin besar kemampuan alam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi Program Hutan Petrofin.

Baca Juga:  Dibalik Kurban PLN UID Kalselteng, Ada Senyum Penerima yang Turut Merayakan Idul Adha

Melalui program tersebut, berbagai jenis pohon ditanam, mulai dari mangrove hingga trembesi dan tanaman produktif lainnya. Kegiatan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Namun yang membuat program ini menarik bukan hanya jumlah pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah bagaimana program ini dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang.

Banyak kegiatan penghijauan berhenti pada seremoni penanaman. Setelah foto-foto diambil dan acara selesai, pohon dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan memadai. Tidak sedikit yang akhirnya mati. Program Hutan Petrofin mencoba keluar dari pola tersebut.

Pendekatan yang digunakan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari proses. Dengan demikian, pohon yang ditanam bukan sekadar proyek perusahaan, melainkan menjadi aset bersama yang dijaga dan dirawat secara kolektif.

Di antara berbagai jenis pohon yang ditanam, mangrove memiliki posisi yang sangat istimewa. Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Ia adalah benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi, gelombang besar, dan intrusi air laut.

Di banyak wilayah Indonesia, kerusakan hutan mangrove telah menyebabkan hilangnya kawasan pesisir secara perlahan. Ombak yang sebelumnya tertahan oleh akar-akar mangrove kini langsung menghantam daratan. Akibatnya, garis pantai terus mundur.

Selain berfungsi sebagai pelindung pantai, mangrove juga memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding banyak jenis hutan daratan.