Dua Lokasi Karhutla di Kotim Belum Padam, di Desa Soren Sudah 11 Hari

oleh
oleh
Karhutla di Kalteng.
Karhutla di Kalteng.

SAMPIT, Kaltengonline.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di dua lokasi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum padam. Di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), karhutla belum berhasil dipadamkan meski telah berlangsung selama 11 hari. 

Lamanya kebakaran membuat lokasi tersebut menjadi prioritas utama penanganan tim gabungan di tengah meningkatnya ancaman karhutla selama musim kemarau.

Selain Eka Bahurui, kebakaran di Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, juga masih berlangsung dan telah memasuki hari keenam. Kedua titik tersebut hingga kini masih memerlukan penanganan intensif.

“Saat ini masih terpantau puluhan hotspot di wilayah Kotim. Yang menjadi perhatian utama adalah kebakaran di Desa Eka Bahurui yang sudah memasuki hari ke-11 dan Desa Soren yang sudah memasuki hari ke-6,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Selasa (14/7/2026).

Data BPBD mencatat hingga 10 Juli 2026 terdapat 325 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah Kotim dengan total luas lahan terbakar mencapai 142,99 hektare.

 Kecamatan Kota Besi menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak dibandingkan wilayah lainnya.

Proses pemadaman menghadapi tantangan besar akibat cuaca panas yang masih berlangsung dan minimnya curah hujan. Selain itu, karakteristik lahan gambut membuat bara api tetap tersimpan di bawah permukaan sehingga kebakaran kerap kembali muncul meski sebelumnya telah dilakukan penyiraman.

Untuk mempercepat penanganan, BNPB sebelumnya mengerahkan dua unit helikopter water bombing di Desa Eka Bahurui dan sekitarnya. Namun hingga kini, api di lokasi tersebut belum dapat dipadamkan sepenuhnya.

BPBD memperkirakan luas lahan yang terbakar di Desa Eka Bahurui dan Desa Soren telah melampaui 20 hektare. Luasan tersebut merupakan akumulasi area yang terdampak selama kebakaran berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Selain menghanguskan lahan, asap dari kebakaran mulai menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.

Multazam menegaskan, upaya pemadaman terus dilakukan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, dan para relawan. Namun ia menilai keberhasilan pengendalian karhutla juga sangat bergantung pada peran masyarakat dalam mencegah munculnya titik api baru.

“Kami mengajak masyarakat ikut berperan mencegah karhutla dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Penanganan yang dilakukan lebih cepat akan memperkecil risiko api meluas,” tandasnya. (*/ko)