Antrean BBM Palangka Raya Mengular, SPBU Kewalahan Layani Permintaan

oleh
oleh
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini (kedua dari kiri) mengadakan inspeksi mendadak untuk memastikan pelayanan dan distribusi BBM terlaksana dengan lancar, Sabtu (5/9).
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini (kedua dari kiri) mengadakan inspeksi mendadak untuk memastikan pelayanan dan distribusi BBM terlaksana dengan lancar, Sabtu (5/9).

PALANGKA RAYA, Kaltegonline.com – Keterbatasan kapasitas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi salah satu faktor yang membuat antrean kendaraan pengisi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Palangka Raya mengular. Kondisi ini semakin diperparah dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap BBM jenis Pertalite.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya, Samsul Rizal, mengatakan hal tersebut berdasarkan hasil pendampingan terhadap Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait antrean BBM.

“Dan kapasitas SPBU yang terbatas mengakibatkan antrean mengular,” kata Samsul, Selasa (8/9).

Menurutnya, keterbatasan kapasitas pelayanan SPBU menjadi persoalan ketika jumlah masyarakat yang membutuhkan BBM mengalami peningkatan. Kendaraan yang datang dalam jumlah lebih banyak membuat kemampuan pelayanan SPBU tidak mampu mengimbangi tingginya permintaan dalam waktu bersamaan.

Samsul menjelaskan, salah satu pemicu meningkatnya permintaan tersebut adalah perbedaan harga BBM. Kondisi itu membuat permintaan masyarakat terhadap Pertalite meningkat dan secara otomatis jumlah pembelian ikut bertambah.

“Karena perbedaan harga, permintaan Pertalite oleh warga meningkat,” ujarnya

Peningkatan pembelian tersebut juga berdampak pada kebutuhan barcode untuk mendapatkan BBM bersubsidi. “Yang mengakibatkan pembelian ikut meningkat dan kebutuhan barcode juga bertambah,” lanjut Samsul.

Selain persoalan kapasitas dan meningkatnya permintaan, distribusi BBM juga turut memengaruhi panjangnya antrean. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat jarak pandang pengemudi mobil tangki terbatas. Akibatnya, kedatangan mobil pengangkut BBM dari Fuel Terminal Pulang Pisau menuju Palangka Raya mengalami keterlambatan sekitar satu hingga dua jam. (afa/ans/ko)