Sayangnya, Medali Itu Bukan untuk Kalteng

oleh
DIBALAS PRESTASI: Fransiska Sandra Dewi (tengah) menahan tangis saat meraih medali emas pada ajang PON XX Papua, beberapa waktu lalu. FOTO: DOK PRIBADI UNTUK KALTENG POS

Musibah itu datang tahun 2016. Cedera lutut membuatnya menepi. Lebih mirisnya, selama proses pemulihan, pemerintah tak mau menanggung biaya perawatan. Namun, pengalaman itu justru menjadi pelecut baginya hingga berhasil meraih emas pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua.

EMANUEL LIU, JAYAPURA

UCAPAN terima kasih yang sebesar-besarnya diutarakan Fransiska Sandra Dewi kepada mantan pelatihnya, Imam Abdullah, yang telah membinanya sedari kecil hingga menjadi atlet pencak silat profesional. Imam juga yang merawat dan selalu menguatkan hatinya selama mengalami cedera. Susah senang sudah dialami berdua dalam dunia pencak silat.

Dewi, sapaan akrabnya, pun menebus semua itu dengan prestasi di pentas PON XX 2021 Papua. Ketika medali emas dikalungkan di lehernya, tangis bahagia pun tak bisa terbendung. Namun, dalam hatinya merasa ada yang janggal. Atlet pencak silat kelahiran Palangka Raya ini tak bisa mengharumkan nama Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Ya, perempuan kelahiran 24 Juni 1999 itu justru membawa nama Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) pada pentas olahraga terbesar di Indonesia, beberapa waktu lalu. Panjang ceritanya mengapa Dewi sampai berpindah domisili ke Bumi Sriwijaya dan bergabung dengan perguruan Tapak Suci Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Dewi menyempatkan berbincang-bincang dengan penulis. Raut wajahnya berubah-ubah. Terkadang terlihat senang karena mendapat medali emas di cabang olahraga pencak silat di kelas tanding F 70-75 kg putri. Sepintas terbesit kesedihan karena bukan bendera Kalteng yang berkibar di arena itu.

“Siapa sih yang tidak bangga, bisa tampil di PON dan sukses meraih medali emas. Saya sampai sekarang masih takjub. Namun sayangnya, saya tidak membawa nama Kalteng,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Bakat Dewi di dunia pencak silat memang sudah terlihat sejak kecil. Sejumlah prestasi pernah diraihnya. Mengenal dunia persilatan sejak 2008. Ikut Perguruan Tapak Suci di Palangka Raya. Imam Abdullah adalah orang yang menemukan bakat Dewi. “Sejak kecil dibina oleh beliau (imam, red),” ujarnya.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Dewi pernah mengharumkan nama Kalteng. Menjuarai Popwil 2014 di Bali. Selanjutnya pada 2015 ia menjuarai Popnas dengan emas pertama pencak silat Kalteng.

Setelah itu, pada 2016 Dewi mengalami cedera lutut, sehingga memaksanya harus menjalani terapi rutin. “Pak Iman Abdullah yang membiayai saya untuk terapi,” tuturnya.

Pada 2017, bakat Dewi tercium daerah lain, meski masih dalam kondisi cedera. Tawaran datang dari Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Tengah. Namun, saat itu tidak diizinkan oleh Imam Abdullah. Imam ingin Dewi meraih prestasi dengan membawa nama Kalteng.

Imam, sebut Dewi, pernah ke Dispora Provinsi Kalteng dan KONI Provinsi Kalteng. Memberitahu soal penawaran dari provinsi lain. Kala itu Imam meminta agar pemerintah daerah memberi anggaran untuk pemulihan cedera Dewi. Tidak mahal. Hanya Rp50 ribu dalam sepekan untuk pijat atau terapi.

“Jika Dewi diambil provinsi lain dan bisa lebih baik, maka tidak masalah. Silakan pindah saja,” ucap Dewi mengulang penjelasan pihak pengurus kepada pelatihnya saat itu.

Imam juga sudah angkat tangan. Keterbatasan dana pribadi menjadi alasan utama. Karena itu, Imam menyerahkan sepenuhnya kepada Dewi untuk mengambil keputusan untuk masa depannya. Dewi pun akhirnya mencabut berkas kependudukan dan pindah ke Provinsi Banten.

“Namun saat di sana, saya tidak diurus dengan baik, malah cedera saya lebih parah. Setelah setahun berada di Banten, mereka tidak mau menerima saya lagi. Mereka bilang saya bukan atlet profesional dan tidak bisa menjaga prestasi yang pernah diraih sebelumnya,” kisah Dewi.