Bagi sampel yang kandungan antibodinya di bawah 1 AU/mL, hasil ujinya dinyatakan negatif. Artinya, antibodi di dalam tubuh belum terbentuk. Sebaliknya, jika jumlah antibodi lebih dari 1 AU/mL, hasilnya dinyatakan positif atau antibodi sudah terbentuk. Angka optimal adalah 20 AU/mL dan dipercaya dapat menangkal infeksi Covid-19. Dalam pengukuran itu sempat ada peserta yang negatif. Namun, ada juga yang jumlah antibodinya mencapai 70 AU/mL, bahkan 100 AU/mL.
Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT Asep Riswoko menceritakan, riset inovasi pengukuran antibodi atau antibodi kuantitatif dimulai awal tahun ini. Bermula dari instruksi hasil rapat pimpinan BPPT dengan Kemenristek saat itu. ’’Saat itu Kemenristek berkeinginan ada program pendampingan vaksinasi pemerintah,’’ jelasnya.
Penasaran dengan teknologi pengukuran antibodi tersebut, wartawan Jawa Pos turut menjadi relawan penelitian. Tahap pertama adalah wawancara dengan dokter. Yang ditanyakan, antara lain, riwayat disuntik vaksin dan pernah positif Covid-19 atau tidak. Setelah lolos di meja wawancara atau skrining itu, bergeser ke meja pengambilan darah. Hanya sekali suntikan, 9 cc darah sudah bisa diambil. Dan, setelah dilakukan penghitungan, ternyata hasilnya negatif. Sebab, jumlah antigen di bawah 1 AU/mL.
Asep yang juga terlibat dalam riset alat pengukur antibodi mengungkapkan, ada potensi antibodi tidak terbentuk meski sudah divaksin. Karena itu, dia mengingatkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan meski sudah divaksin.
Menurut Asep, inovasi pengukur kadar antibodi dari BPPT itu bukan sesuatu yang baru. Sebab, ada laboratorium swasta di Indonesia yang memiliki alat serupa. Tetapi, lebih besar dan harganya mahal. Jadi, kurang efektif jika harus disebar di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan sampai ke tingkat kecamatan.







