Akhirnya, tim di BPPT memutuskan untuk membuat inovasi alat pengukur kadar antibodi bagi masyarakat yang sudah divaksin Covid-19 berbekal bahan baku dalam negeri. ’’Inti inovasi ini ada di kitnya,’’ katanya. Pembuatan kit tersebut menggunakan protein Covid-19 yang ada di Indonesia. Dia menegaskan bahwa perjalanan inovasi ini masih panjang. Sebab, sejumlah pengujian harus dijalankan.
Asep mengakui, perangkat pengukuran antibodi itu memang digunakan bagi orang yang sudah divaksin. Bagi orang yang belum divaksin atau belum pernah terinfeksi Covid-19, antibodinya belum muncul. Sebaliknya, antibodi orang yang sudah divaksin atau pernah terinfeksi Covid-19 sangat mungkin sudah muncul.
Dia menyatakan, inovasi mereka itu berfungsi mengukur antibodi netralisasi yang muncul karena Covid-19 masuk dalam tubuh. Apakah itu virus Covid-19 yang masuk secara alami atau sengaja diinjeksi dalam bentuk vaksin. ’’Jadi, ini spesifik mengukur antibodi untuk Covid-19,’’ ujar dia.
Sebelum didaftarkan sebagai alat kesehatan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), inovasi pengukuran antibodi itu melalui pengujian terhadap 700 sampel. Pengalamannya selama ini, kadar antibodi dari orang yang sudah divaksin memang berbeda-beda. ’’Ada yang sudah divaksin dua kali, tetapi antibodinya nol koma,’’ jelasnya.
Menurut Asep, sampai saat ini belum ada patokan resmi dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) tentang jumlah kadar antibodi dalam tubuh yang efektif untuk menangkal infeksi Covid-19. Namun, saat ini mereka menggunakan acuan angka jumlah kadar antibodi sebanyak 20 AU/mL. Dengan patokan tersebut, diharapkan tubuh bisa mematikan Covid-19 sebelum berhasil menginfeksi tubuh.
Meski izin edar alat pengukur antibodi itu belum resmi keluar, tim BPPT sudah melakukan sejumlah sosialisasi. Salah satunya, sosialisasi kepada pimpinan pemerintah daerah. Harapannya nanti, ketika BPPT sudah mengantongi izin edar, pemerintah daerah tertarik memesannya.







