Begini Kronologi Lengkap Pembunuhan Pasutri di Palangka Raya

oleh
oleh
Pelaku memperagakan saat mendobrak rumah korban dalam prarekonstruksi, Minggu pagi (9/10). (foto: kaltengpos

Lili, kakak Ahmad Yendinor tak kuasa menahan emosi ketika menyaksikan pelaku memperagakan adegan prarekonstruksi. Menurut Lili, sebelum kejadian itu, sore harinya sang adik sempat meneleponnya yang saat itu sedang berada di Surabaya. Betapa terkejutnya saat mendengar kabar bahwa adiknya ditemukan tewas terbunuh di kediaman, Jalan Kamboja.

Saat ditanyai apakah mengenali pelaku, dengan lantang Lili menjawab tidak mengenali pelaku.“Sore itu Ahmad Yendi sempat menelepon saya, posisi saya di Surabaya, pada malam harinya saya kaget dengar kabar adik saya ditemukan meninggal dunia akibat dibunuh, jujur saya tidak kenal dengan pelaku, jadi saya minta kepolisian menghukum pelaku seberat-beratnya, kalau perlu hukuman mati,” kata Lili kepada awak media, Minggu (9/10).

Tak hanya Lili, anak pertama korban bernama Desi yang turut berada di lokasi prarekonstruksi tak kuasa menahan tangis, karena mengetahui pembunuh kedua orang tuanya adalah orang yang dikenalnya dan sering mengunjungi ayahnya. Bisa dibilang teman dekat sang ayah.

Baca Juga:  Siswa SD di Sampit Kembangkan Minuman Herbal dari Lahan Bekas Terbakar

“Iya, saya kenal pelaku, namanya Utuh, dia itu teman dekat ayah, ya bisa dibilang teman akrab ayah dan sering diajak bercanda sama ayah, sepengetahuan saya tidak ada masalah antara ayah dengan pelaku, setelah kejadian itu, dia enggak pernah lagi ke rumah, apalagi melayat,” tutur Desi.

Dengan terungkapnya kematian kedua orang tuanya, Desi meminta agar pelaku dihukum mati sebagai balasan atas apa yang dilakukan kepada orang tuanya. “Jangan sampai pelaku bebas, kalau bisa hukuman mati saja, saya tidak habis pikir, padahal pelaku itu teman dekat ayah, sering datang ke rumah, tapi malah tega membunuh orang tua saya,” sebutnya.