Pemadam Kelelahan, Warga Diminta Ikut Turun Tangan Tangani Karhutla

oleh
oleh
Wakil Ketua II Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, Sri Ani Rintuh
Wakil Ketua II Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, Sri Ani Rintuh

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kota Palangka Raya, tidak bisa lagi hanya mengandalkan tenaga aparat. Intensitas pemadaman yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, membuat kondisi fisik para petugas gabungan di lapangan mulai terkuras dan kelelahan, akibat terus-menerus berjibaku menjinakkan si jago merah.

Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua II Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, Sri Ani Rintuh, mendesak masyarakat agar tidak hanya berpangku tangan atau sekadar menjadi penonton saat terjadi kebakaran di wilayahnya.

Keterlibatan aktif warga dinilai sangat vital untuk mempercepat pemadaman sekaligus meringankan beban petugas.

“Kerja sama dan kepedulian masyarakat adalah kunci utama saat ini. Kita tidak bisa menutup mata, bahwa para petugas di lapangan sudah mulai kelelahan setelah berhari-hari bertaruh nyawa memadamkan api,” tegas Sri Ani, Sabtu (19/9).

Sri menegaskan, urusan Karhutla bukan semata tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam. Seluruh elemen, mulai dari warga hingga pihak swasta, wajib mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, terutama saat titik api mulai mendekati area permukiman.

Kolaborasi lintas sektor ini, diyakini mampu menekan dampak destruktif bencana seminimal mungkin.

Di sisi lain, Sri Ani turut me nyoroti, ancaman keseha tan akibat paparan kabut asap beracun. Meski kualitas udara sempat memburuk, ia mengapresiasi, laporan dari Dinas Kesehatan yang menyebutkan tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), kini mulai mengalami penurunan. Kondisi positif ini, disinyalir sebagai buah dari meningkatnya kedisiplinan warga.

“Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, kasus ISPA mulai menunjukkan tren penurunan. Hal ini kemungkinan besar didorong oleh kesadaran masyarakat yang sudah semakin disiplin membentengi diri dengan masker saat beraktivitas di luar rumah,” tuturnya.

Kendati tren penularan ISPA melandai, politikus ini mewanti-wanti masyarakat agar tidak lengah. Fluktuasi kualitas udara di sejumlah kawasan masih sangat membahayakan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita dan lansia, serta mereka yang beraktivitas di ruang terbuka.

“Selama kabut asap masih menyelimuti, langkah perlindungan diri tidak boleh kendur. Kalau memang terpaksa harus keluar rumah, pastikan selalu memakai masker yang standar agar risiko terhirup polutan berbahaya bisa dicegah sedini mungkin,” pungkasnya mengingatkan. (zia/ko)