Kaltengonline.com – Di tengah perannya sebagai penopang hingga 40 persen kebutuhan LPG nasional, Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, kini memasuki babak baru transformasi energi. PT Pertamina (Persero) menjadikan fasilitas tersebut sebagai Green Terminal pertama yang mengintegrasikan energi hijau, dengan PT Elnusa Petrofin (EPN) berperan penting dalam distribusi green hydrogen untuk mendukung operasional rendah karbon.
Pada 13 Februari 2026, PT Pertamina (Persero) meresmikan inisiatif Green Terminal di Tanjung Sekong. Langkah ini menjadi sebuah program sertifikasi pelabuhan yang memadukan standar lingkungan, teknologi ramah lingkungan, digitalisasi operasional, ekonomi sirkuler, hingga perlindungan biodiversitas dalam satu kerangka terintegrasi.
Di tengah inisiatif ambisius ini, PT Elnusa Petrofin (EPN) tampil bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu pemain kunci.
Salah satu elemen paling inovatif dalam proyek percontohan ini adalah distribusi Green Hydrogen. Definisi sederhana dari bentuk ini adalah hidrogen bersih yang diproduksi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dari sumber panas bumi di Ulubelu, Lampung.
Proses yang terjadi setelahnya adalah bagian EPN, yakni mendistribusikan energi hidrogen tersebut kepada para pengguna potensial, termasuk PT Pertamina Energy Terminal (PET) di Tanjung Sekong, yang memanfaatkannya sebagai bahan bakar pembangkit listrik rendah karbon untuk operasional terminal.
Ini adalah mata rantai yang lengkap. Publik bisa melihat, dari sumur panas bumi, menjadi hidrogen, diangkut oleh logistik EPN, dan berubah menjadi listrik bersih. Pembangkit berbasis Green Hydrogen tersebut ditargetkan memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal, sekaligus menekan emisi tidak langsung (Scope 2) dari aktivitas sehari-hari Tanjung Sekong.
“Keberhasilan NZE Roadmap 2060 tidak hanya ditentukan oleh inovasi di sisi produksi energi, tetapi juga oleh keandalan sistem logistik yang mampu mengantarkan energi bersih secara aman, presisi, dan berkelanjutan hingga titik pemanfaatan,” ujar Doni Indrawan, Direktur Utama PT Elnusa Petrofin
Selama ini, Elnusa Petrofin lebih dikenal publik sebagai ujung tombak distribusi BBM PSO (Public Service Obligation) dan BBM Satu Harga ke pelosok nusantara. Namun keterlibatan EPN di Green Terminal Tanjung Sekong menandai babak baru, berupa langkah transformasi menjadi enabler logistik untuk energi masa depan.
Kapabilitas yang dimiliki EPN menjadikannya mitra yang tepat dalam ekosistem ini. Pengalaman panjang dalam pengelolaan transportasi energi berskala nasional, sistem monitoring berbasis teknologi, serta standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang ketat menjadi modal utama dalam menangani energi baru seperti hydrogen, yang membutuhkan presisi dan keamanan tinggi dalam penanganannya.
Lebih dari itu, kapabilitas logistik EPN menjadi jembatan antara dua dunia energi, yakni konvensional dan baru, ke dalam satu sistem distribusi nasional yang terintegrasi. Ini bukan sekadar ekspansi lini bisnis, melainkan repositioning strategis di tengah pergeseran lanskap energi global.
Agung Wicaksono, Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), menegaskan bahwa inisiatif Green Terminal adalah bagian dari Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 Pertamina. Seperti diketahui, program tersebut menjadi peta jalan yang menekankan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan percepatan adopsi energi baru dan terbarukan di seluruh lini bisnis perusahaan.
Proyek ini istimewa karena memperlihatkan sinergi nyata lintas entitas dalam Pertamina Group. PGE sebagai produsen energi hijau, EPN sebagai distributor andal, dan PET sebagai pengguna akhir yang mengkonversi hidrogen menjadi listrik bersih. Tanjung Sekong, dengan kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton dan dermaga yang melayani kapal hingga 65.000 DWT, menjadi laboratorium hidup bagi model infrastruktur energi berkelanjutan Indonesia.
Jika berhasil direplikasi, model ini bisa menjadi cetak biru untuk terminal-terminal energi strategis lainnya di Indonesia. Artinyab isa lebih mendorong transisi yang tidak hanya progresif, tetapi juga aman, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab, Elnusa Petrofin memilih untuk tidak sekadar beradaptasi. EPN memimpin perubahan dari dalam rantai pasok itu sendiri. Tanjung Sekong bukan titik akhir, melainkan titik tolak.(bud)







