PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Musim kering belum beranjak dari Palangka Raya. Perpanjangan status darurat kekeringan menjadi alarm bagi masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya Khemal Nasery mengatakan, kekeringan dan karhutla merupakan persoalan yang kerap muncul saat musim kemarau. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan musim penghujan yang membawa ancaman banjir.
“Memang kondisi kita seperti ini. Kota Palangka Raya menghadapi beberapa persoalan yang berulang, seperti kekeringan dan banjir,” kata Khemal, Senin (10/8).
Menurut dia, perpanjangan status darurat kekeringan harus dibarengi dengan peningkatan kewaspadaan masyarakat. Sebab, lahan yang semakin kering membuat api lebih mudah muncul dan cepat merambat.
Khemal meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah sederhana seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan juga penting, terutama di kawasan yang kondisi lahannya kering dan rawan terbakar.
“Jangan merambah hutan atau membuka lahan perkebunan dengan cara membakar. Kita harus mencari cara yang cerdas dan bijak untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat,” tegasnya.
Ia mengingatkan, dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Jika api meluas dan memicu kabut asap, berbagai aktivitas masyarakat ikut terganggu.
Mulai sektor ekonomi hingga kesehatan bisa terdampak. Terlebih, kondisi ekonomi masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan.
“Kalau kabut asap terjadi, dampaknya sangat luas. Ekonomi masyarakat sudah sulit, inflasi juga tinggi, kemudian asap dan kabut asap pasti berdampak terhadap kesehatan,” ujarnya.
Khemal menilai pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, pemadam kebakaran, maupun aparat. Masyarakat harus ikut menjadi garda terdepan dalam mencegah munculnya titik api.
Terlebih, kawasan gambut di sekitar Palangka Raya memiliki tingkat kerawanan tinggi saat musim kemarau. Kelalaian kecil bisa berubah menjadi persoalan besar jika api telanjur membesar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sebelum kabut asap benar-benar muncul.
“Jangan sampai kondisi alam kita yang memang rawan kebakaran, terutama di kawasan gambut, diperparah dengan masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Menurut Khemal, kewaspadaan harus dimulai sejak lahan mulai mengering. Jangan menunggu kebakaran terjadi baru bergerak melakukan pencegahan.
“Jangan sampai ketika sudah terjadi kabut asap, masyarakat justru tidak peduli,” pungkasnya. (zia/ko)







