Antrean Pertalite Mengular, DPRD Kalteng Desak Pasokan BBM Dibuat Normal

oleh
oleh
Arton S Dohong
Arton S Dohong

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Fenomena antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), khususnya untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite, memantik sorotan tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi krisis ini, dinilai mendesak untuk segera ditangani agar ketersediaan energi bagi masyarakat tetap terjamin.

Ketua DPRD Kalteng, Arton S Dohong, menilai bahwa antrean panjang ini kemungkinan besar dipicu oleh lonjakan konsumsi masyarakat. Namun, ia memberi catatan khusus, kelangkaan tersebut tidak terjadi secara merata pada semua jenis BBM.

“Kemungkinan pertama memang ada peningkatan kebutuhan. Tetapi perlu dicatat, antrean panjang ini tidak terjadi pada semua jenis BBM, melainkan terpusat hanya pada Pertalite,” ujar Arton, Senin (14/9).

Oleh karena itu, ia mendesak PT Pertamina, untuk memberikan atensi serius terhadap persoalan ini. Pasokan energi menuju Kalteng harus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, agar tidak terus-menerus terjadi kelangkaan di tingkat konsumen akhir.

Lebih lanjut, Arton mengaku prihatin melihat penderitaan ganda yang kini dialami oleh warga. Di tengah ancaman krisis udara akibat paparan kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), masyarakat masih harus menguras energi dan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

“Situasi ini sangat menyulitkan yaitu kepungan kabut asap yang menyesakkan, masyarakat kita malah dibebani lagi dengan keharusan mengantre panjang demi mendapatkan BBM,” keluhnya.

Menyikapi polemik kelangkaan ini, Arton menyebut bahwa komisi terkait di DPRD Kalteng sebelumnya telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) khusus dengan pihak Pertamina. Berdasarkan analisis, pihaknya meyakini benang kusut antrean panjang ini lebih disebabkan oleh kendala teknis distribusi, bukan unsur kesengajaan atau penimbunan.

“Pada prinsipnya, kami melihat kemungkinan besar ada hambatan transportasi atau proses pengiriman dari lokasi produksi menuju daerah konsumen. Kendala pada rantai distribusi inilah yang harus dicermati, diidentifi – kasi, dan segera dicarikan solusinya agar pasokan Pertalite kembali normal,” pungkasnya. (rif/ko)