Amran menargetkan dalam waktu 3-6 bulan ke depan proyek food estate di Gumas berjalan baik. Komoditas yang ditanam di lahan itu bukan hanya jagung, tetapi juga ubi, sayur-mayur, dan sorgum,” bebernya.
Amran mengakui bahwa pengembangan food estate di Kalteng tidak mudah. Ada banyak tantangan. Meski demikian, ia meyakini bahwa proyek strategis nasional (PSN) itu berpotensi mampu menjadi penyangga kebutuhan pangan di ibu kota negara (IKN) Nusantara ke depannya.
“Food estate itu penting untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. Ada yang me-ngatakan belum sempurna, iya. Kenapa? Karena lahan pertanian yang baru dibuka tidak bisa langsung sempurna,” ungkap Amran.
Amran menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan pro-yek food estate itu adalah pH atau derajat keasaman tanah yang rendah. Derajat kea-saman dari tanah food estate di Pulpis, Kapuas, maupun Gumas sendiri memiliki pH 4. Itu terbilang rendah, karena seharusnya pH 6. Maka untuk meningkatkan pH tanah, dibutuhkan kapur dolomit.
“Hampir semua lahan di Kalimantan butuh dolomit untuk menormalkan atau menaikkan pH-nya. Sekarang yang kami tanami sudah stabil, makanya bisa bagus,” ungkap Amran.







