Menurutnya, produksi beras dari Kalteng berpotensi mampu mencukupi target kebutuhan beras secara nasional. Indonesia pernah mengalami swasembada beras pada 2017, 2019, dan 2020. Karena itu, ia menargetkan Indonesia harus bisa mewujudkan lagi swasembada beras seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kita kan sudah pernah swasembada beras, hanya saja langkah ke depan me-mang perlu kami tingkatkan kembali, kami kelola dengan baik, sehingga indeks pertanamannya naik,” ujar akademisi pertanian dari Universitas Hasanuddin itu.
Menurut Amran, jika proyek food estate di Kalteng tetap dilanjutkan dan digarap secara berkelanjutan, maka Indonesia bisa mencapai swasembada beras. Bahkan, di tahun keempat hingga kelima berjalannya proyek, beras dari Indonesia atas sumbangsih produksi dari Kalteng, mampu diekspor ke luar negeri.
“Targetnya tiga tahun mencapai swasembada beras, lalu tahun berikutnya kami ekspor. Tapi dengan catatan, lanjutkan program ini, kalau program food estate di lahan rawa dilanjutkan, mungkin kita sekarang sudah bisa ekspor,” ujarnya.
Terkait pengembangan food estate di Kalteng tahun depan, Amran menyebut saat ini sudah ditanami dan akan dilanjutkan. Food estate dianggap penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. “Bapak Presiden sudah memprediksi akan terjadi krisis pangan dunia, sehingga food estate sudah dirancang lebih awal,” tuturnya. (dan/zia/ce/ala)







