PANGKALAN BUN, kaltengonline.com – Ancaman kesehatan anak akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, mendapat perhatian serius DPRD setempat. Kondisi udara yang memburuk dinilai tidak boleh dianggap sepele karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik, DPRD Kobar melakukan koordinasi bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kobar serta kepala sekolah RA, MI, MTs, dan MA, baik negeri maupun swasta.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk membahas pelaksanaan pembelajaran di tengah situasi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kobar. DPRD meminta satuan pendidikan menempatkan kesehatan dan keselamatan anak sebagai perhatian utama.
Ketua Komisi A DPRD Kobar, Muhammad Isro Wahyudin, yang akrab disapa Bang Wahyu, mengatakan kondisi karhutla yang semakin meluas harus diikuti dengan langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan masyarakat.
“Ancaman kesehatan anak-anak perlu mendapatkan perhatian. Karhutla merajalela, ISPU dan ISPA jangan dianggap remeh,” kata Bang Wahyu, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, aktivitas pembelajaran di sekolah perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara. Ketika kabut asap semakin pekat, kegiatan yang membuat anak-anak terlalu lama berada di luar ruangan perlu menjadi perhatian.
Bang Wahyu menilai koordinasi dengan Kemenag dan seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Kemenag penting dilakukan agar terdapat langkah yang sejalan dalam menghadapi kondisi asap. Hal itu sekaligus untuk memastikan kebijakan pembelajaran tidak mengabaikan faktor kesehatan siswa.
Ia menegaskan, anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk. Paparan asap dalam kondisi karhutla yang berkepanjangan dapat mengganggu aktivitas belajar sekaligus meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Karena itu, DPRD Kobar mendorong pihak sekolah terus memantau kondisi udara dan mengambil langkah pencegahan sesuai situasi di lapangan. Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, serta penyesuaian kegiatan pembelajaran dinilai perlu menjadi perhatian ketika kualitas udara tidak sehat.
Koordinasi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah, Kemenag, dan pihak sekolah. Dengan begitu, setiap perkembangan kondisi asap dapat segera ditindaklanjuti tanpa menunggu munculnya persoalan kesehatan pada peserta didik.
“Jangan sampai kita baru bertindak setelah anak-anak banyak yang sakit. Keselamatan dan kesehatan mereka harus menjadi prioritas,” tegasnya.
DPRD Kobar berharap penanganan karhutla dapat segera membuahkan hasil sehingga kualitas udara kembali membaik dan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung normal. Di tengah ancaman asap yang masih terjadi, kewaspadaan seluruh pihak dinilai menjadi kunci untuk melindungi anak-anak dari dampak karhutla.(bob)







