BMKG Ungkap Ancaman di Balik Kemarau Kobar: El Nino Sangat Kuat, Karhutla Mengintai

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap ancaman di balik kemarau yang melanda Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Fenomena El Nino sangat kuat membuat curah hujan menurun dan kondisi wilayah semakin kering, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut meningkat.

Forecaster On Duty Stasiun Meteorologi Iskandar Kelas III Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, mengatakan kondisi El Nino saat ini berdasarkan data historis ENSO bulanan berada pada kategori sangat kuat. Kondisi tersebut berdampak terhadap pengurangan curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Indonesia.

“El Nino saat ini menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. Kondisi ini berdampak pada pengurangan curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Indonesia,” kata Ni Kadek Trisna Dewi, Rabu (19/8/2026).

Ancaman kemarau panjang itu terlihat dari peta monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) per 10 Agustus 2026. Sebagian besar wilayah Kobar telah mengalami HTH dalam kategori sangat panjang, yakni mencapai 31 hingga 60 hari.

Kondisi kering tersebut juga membuat suhu udara meningkat, terutama pada siang hari. Berdasarkan Peta Anomali Suhu Rata-Rata Bulanan Juli 2026, wilayah Kobar mengalami anomali positif atau kenaikan suhu rata-rata sekitar 0,75 hingga 1 derajat Celsius dibandingkan kondisi normal.

Situasi semakin rawan karena terjadi peningkatan kecepatan angin. Kombinasi kemarau panjang, suhu yang lebih tinggi dan angin membuat material kering di permukaan tanah lebih mudah terbakar sekaligus meningkatkan potensi penyebaran api.

Kerawanan tersebut diperkuat dengan kondisi tingkat kemudahan terbakar di wilayah Kobar dan sekitarnya. Berdasarkan Peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC), wilayah ini sudah masuk kategori Very High atau sangat mudah terbakar.

Artinya, sedikit saja sumber api muncul di tengah kondisi tersebut dapat menjadi ancaman serius. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membakar sampah atau daun kering di lahan terbuka.

Warga juga diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan serta lebih bijak menggunakan air bersih selama musim kemarau. Kewaspadaan masyarakat menjadi penting untuk mencegah potensi kebakaran berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.

Ancaman tersebut diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan analisis dan prediksi ENSO terkini, pemutakhiran Dasarian I Agustus 2026, kondisi El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Kobar dan wilayah sekitarnya juga diprakirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung selama 16-18 dasarian, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada September.

Pada September, curah hujan di Kobar diprediksi hanya berkisar 0-20 milimeter. Curah hujan kemudian diperkirakan mulai meningkat pada Oktober sebesar 20-150 milimeter dan kembali meningkat pada November menjadi 50-300 milimeter. Dengan puncak kemarau masih di depan mata, BMKG mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla di Kobar. (ko)