PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H Edy Pratowo menegaskan pentingnya keterlibatan organisasi perempuan dalam memperkuat fondasi pembangunan daerah. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang dirangkai dengan Halal Bihalal serta pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat NU kabupaten/ kota se-Kalteng, di Aula UIN Palangka Raya, Kamis (23/4).
Wagub menilai eksistensi Muslimat NU selama delapan dekade menunjukkan konsistensi dalam membina umat dan menjaga stabilitas sosial. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki jaringan kuat hingga tingkat akar rumput yang berperan dalam membangun ketahanan keluarga.
“Muslimat NU sudah membuktikan kiprahnya selama 80 tahun. Ini bukan perjalanan singkat. Kontribusinya nyata dalam pendidikan, pembinaan keluarga, hingga pemberdayaan perempuan,” kata Edy saat itu.
Menurutnya, kekuatan organisasi perempuan seperti Muslimat NU sangat dibutuhkan untuk mendukung program pembangunan pemerintah daerah, terutama yang menyentuh langsung masyarakat.
Ia mendorong agar sinergi yang telah terjalin dapat terus diperkuat di berbagai sektor. “Kami di Pemerintah Provinsi tentu tidak bisa bekerja sendiri.
Perlu dukungan dan kolaborasi dari seluruh elemen, termasuk Muslimat NU, agar program sosial, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan bisa berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Edy juga menyinggung pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat serta semangat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia berharap momentum harlah dan halal bihalal menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus memperkokoh komitmen pengabdian.
“Momentum ini harus menjadi penguat kebersamaan dan soliditas organisasi. Dengan kebersamaan, kita bisa menghadapi berbagai tantangan pembangunan,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga merupakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada kesempatan tersebut menyampaikan Harlah ke-80 Muslimat NU mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneguhkan Peradaban.” Ia menekankan pentingnya menjaga amaliah Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi spiritual organisasi.
“Tradisi keagamaan seperti majelis taklim, salawat, dan tahlil adalah kekuatan yang harus terus dijaga,” ujarnya. Selain itu, ia mendorong penguatan kemandirian melalui pengembangan koperasi dan program ekonomi umat, serta mengajak seluruh kader untuk menjadi agen perdamaian di tengah dinamika global.
“Kita ingin Indonesia tetap damai dan sejahtera. Itu dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat kita,” tuturnya. (ovi/ans/ko)







