Gubernur Dorong Investasi dan Hilirisasi
PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Misi dagang antara Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Jawa Timur (Jatim) mencatatkan nilai transaksi Rp2,082 Triliun. Hal itu terjadi dalam misi dagang kedua provinsi yang dilaksanakan di M Bahalap Hotel, Palangka Raya, Kamis (23/4).
Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran, menegaskan kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi perdagangan, investasi, dan hilirisasi antarwilayah.
“Misi dagang ini kami pandang sebagai pintu gerbang kerja sama yang lebih luas, tidak hanya perdagangan, tetapi juga investasi dan penguatan rantai pasok,” ujarnya dalam sambutan.
Ia menyebut Kalteng memiliki potensi besar dengan wilayah yang luas serta sumber daya alam melimpah. Potensi tersebut dikembangkan melalui pembagian tiga zona utama, yakni barat, tengah, dan timur, yang masing-masing memiliki keunggulan sektor.
Di zona barat, potensi unggulan meliputi kelapa sawit, pertambangan, pariwisata, serta perikanan modern, termasuk pengembangan shrimp estate udang vaname.
Saat ini, Pemprov Kalteng telah mengembangkan kawasan budidaya udang seluas 40,17 hektare di Desa Sungai Raja dengan kapasitas produksi sekitar 335 ton per siklus panen.
Program tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya hilirisasi sektor perikanan sekaligus mendorong peningkatan ekspor dan ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, zona tengah difokuskan pada pengembangan food estate, pertanian, perkebunan, hingga industri kreatif dan pengolahan hasil hutan. Adapun zona timur memiliki potensi besar di sektor pertambangan, kehutanan, serta pengembangan hortikultura dan perikanan air tawar.
“Kami arahkan pengembangan ini secara terencana agar memberikan nilai tambah ekonomi yang optimal,” tegasnya.
Selain itu, Pemprov Kalteng juga mengembangkan demplot terpadu di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai model ekonomi berbasis kawasan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Agustiar menambahkan, seluruh program tersebut selaras dengan kebijakan nasional, termasuk dukungan terhadap program biodiesel B50 yang dinilai berpotensi meningkatkan nilai tambah sektor kelapa sawit.
“Potensi sawit kita mencapai 2,9 juta hektare dengan produksi sekitar 9 juta ton CPO pada 2025. Ini menjadi kekuatan besar dalam mendukung ketahanan energi nasional,” katanya.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan bahwa transaksi yang tercatat dalam misi dagang ini meliputi kegiatan jual beli maupun investasi antar kedua provinsi. “Total transaksi sudah Rp2 triliun lebih,” ujarnya.
Komoditas yang diperdagangkan antara lain telur ayam, daging unggas, susu, hingga kopi robusta dari Jawa Timur. Sementara dari Kalimantan Tengah, terdapat komoditas seperti udang vaname, kayu bulat, dan rotan.
Selain transaksi perdagangan, juga terdapat rencana investasi di sektor gula merah serta budidaya ikan patin sungai.
Khofifah menegaskan, kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan akan ditindaklanjuti melalui desk perdagangan di masing-masing daerah.
“Kalau hari ini belum deal, bisa dilanjutkan besok atau minggu depan. Ini terbuka bagi seluruh pelaku usaha,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan organisasi pengusaha, perbankan, hingga kelompok pemuda dari kedua provinsi.
“Kita bangun sinergi di banyak lini, mulai dari HIPMI, IWAPI, Kadin, hingga Bank Indonesia, agar dampaknya nyata bagi pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Misi Dagang dan Investasi antara Provinsi Jawa Timur dan Kalimantan Tengah menjadi langkah konkret dalam mempertemukan potensi serta kebutuhan antarwilayah. Program ini dinilai mampu memperkuat konektivitas perdagangan domestik sekaligus mendorong integrasi pasar dalam negeri.
Khofifah menyebut hasil business matching dalam misi dagang di Kalimantan Tengah menunjukkan adanya kebutuhan yang saling melengkapi antara kedua daerah.
“Ini sinergi yang sangat baik. Dari business matching yang dilakukan, terlihat bahwa kebutuhan kedua daerah ini saling melengkapi dan membuka peluang kerja sama yang luas. Alhamdulillah transaksi misi dagang di Kalimantan Tengah ini menembus Rp2,082 triliun lebih,” ujarnya.
Ia menegaskan, misi dagang bukan sekadar ajang promosi produk daerah, tetapi juga instrumen strategis untuk menciptakan transaksi riil dan kemitraan bisnis berkelanjutan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap pertemuan menghasilkan nilai tambah, ada transaksi, ada kemitraan, dan ada keberlanjutan kerja sama. Ini bagian dari menjahit Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperkuat konektivitas antardaerah,” tegasnya.
Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah atas dukungan terhadap pelaksanaan misi dagang tahun 2026.
Menurut dia, total transaksi Rp2,082 triliun tersebut terdiri dari penjualan dari Jawa Timur sebesar Rp1,79 triliun, pembelian senilai Rp193,55 miliar, serta komitmen investasi mencapai Rp90 miliar.
Dalam transaksi tersebut, berbagai komoditas unggulan dari Jawa Timur diperdagangkan, mulai dari telur ayam, daging unggas, pakan ikan dan udang, susu, ternak sapi dan kambing, bawang merah, kopi robusta, pupuk organik cair, hingga produk batik, makanan olahan, dan frozen food.
Sementara itu, Kalimantan Tengah memasok sejumlah komoditas strategis ke Jawa Timur, seperti udang vaname, kayu bulat, dan rotan. Kerja sama investasi juga diarahkan pada pembangunan pabrik gula merah tebu, sektor pertambangan, serta pengembangan budidaya ikan patin sungai.
Khofifah menilai pola perdagangan dua arah ini penting untuk memperkuat rantai pasok nasional sekaligus mengoptimalkan distribusi logistik antardaerah.
Adapun 10 transaksi terbesar dalam misi dagang tersebut berasal dari sektor strategis, di antaranya produk peternakan senilai Rp1,21 triliun per tahun, pasokan pupuk organik cair Rp227,25 miliar selama lima tahun, industri hasil tembakau Rp163,74 miliar per tahun, serta sektor kehutanan senilai Rp145,65 miliar per tahun.
Selain itu, terdapat transaksi sektor perikanan senilai Rp100,74 miliar per tahun, investasi pabrik gula merah Rp46 miliar per tahun, perdagangan udang vaname Rp42,5 miliar per tahun, investasi pertambangan emas rakyat Rp24 miliar per tahun, budidaya ikan patin Rp20 miliar per tahun, serta perdagangan bawang merah Rp16,8 miliar untuk dua tahun.
“Kita semua punya kekuatan. Maka mari tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan sukses bersama. Kuncinya adalah sinergi yang terus kita jaga,” tegas Khofifah.
Sementara itu, Kepala Biro terkait Pemprov Kalteng, Linaer Victoria Aden, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan misi dagang tersebut. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kerja sama yang berkelanjutan.
“Harapannya ada tindak lanjut konkret dari kerja sama ini, sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kalimantan Tengah pada 2025 tumbuh sebesar 4,80 persen, dengan kontribusi utama dari sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, dan pertambangan.
Meski demikian, pemerintah daerah masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pasokan dari luar daerah serta dinamika ekonomi global.
Melalui misi dagang ini, diharapkan akses pasar semakin terbuka, jejaring usaha semakin kuat, serta peluang investasi baru dapat tercipta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kedua provinsi. (*rif/ala/ko)







