Kelapa Muda Ikut Naik Gara-gara BBM, Gas Lebih Dulu Naik Bikin Pedagang Geleng-Geleng

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali memicu efek berantai yang terasa hingga ke kehidupan sehari-hari. Di Pangkalan Bun, dampaknya tak hanya dirasakan di jalanan, tetapi juga sampai ke lapak sederhana penjual kelapa muda yang kini harus ikut menyesuaikan harga.

Namun sebelum kelapa muda ikut merangkak naik, para pedagang lebih dulu “dipukul” oleh kenaikan harga gas elpiji. Bahan bakar utama untuk memasak itu melonjak cukup signifikan, membuat biaya operasional usaha kecil langsung membengkak dalam waktu singkat.

Di kawasan Jalan Bhayangkara, Kecamatan Arut Selatan, harga tabung gas 5 kilogram kini naik dari sekitar Rp115 ribu menjadi Rp130 ribu. Sementara itu, tabung 12 kilogram melonjak dari kisaran Rp220 ribu hingga menyentuh Rp280 ribu. Kenaikan ini menjadi beban awal yang harus ditanggung pedagang sebelum akhirnya merembet ke harga jual dagangan.

Tak lama berselang, harga kelapa muda pun ikut terkerek. Dari yang sebelumnya Rp12 ribu per buah, kini menjadi Rp15 ribu. Meski terlihat sederhana, kenaikan ini cukup terasa, terutama bagi pelanggan setia yang biasa menjadikan kelapa muda sebagai pelepas dahaga di siang hari.

Baca Juga:  Siswi SD di Pangkalan Bun Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual, Pelaku Kabur

Eko, salah satu pedagang, mengaku tidak punya banyak pilihan. Selain menjual kelapa muda, ia juga mengandalkan nasi goreng dan mie goreng yang semuanya membutuhkan gas sebagai bahan utama memasak. “Gas sudah naik duluan, mau tidak mau harga jual juga ikut menyesuaikan,” ujarnya, Kamis (23/4).

Tak hanya itu, kenaikan juga menjalar ke bahan pendukung seperti plastik kemasan. Biaya kecil yang dulunya nyaris tak terasa kini ikut menambah beban. Sedikit demi sedikit, semua kenaikan itu akhirnya bermuara pada satu hal: harga jual yang lebih tinggi.

Di tengah kondisi ini, pedagang kecil dan masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Harga naik bertahap, tetapi penghasilan belum tentu ikut meningkat. “Kami cuma bisa ikut arus, kalau tidak begitu ya tidak bisa jalan usaha,” kata Eko, menggambarkan realitas sederhana di balik segelas kelapa muda yang kini tak lagi semurah dulu. (ko)